Cute Rocking Baby Monkey

Minggu, 07 Februari 2016

Langit Senja

Cerita ini juga di post di Wattpad id : audirhy

Part 1
Jakarta – Abu Dhabi

BANDARA Soekarno-Hatta siang itu tampak ramai. Seorang gadis bermata sipit tampak berlarian menerobos kerumunan, menuju rombongan yang dengan mudah dikenalinya Karena sosok pria berperawakan ramah itu ada di sana. Koper besar berwarna merah dan sebuah tas jinjing berukuran sedang berwarna senada yang memenuhi kedua tangannya, serta tas ransel berwarna hitam yang tersampir di bahunya tampak tak memberatkannya sama sekali. Dalam sekejap mata , ia sudah sampai di tengah-tengah rombongan yang akan bersamanya menjelajah Eropa selama 13 hari ke depan.
"Maaf, aku terlambat paman! Apakah kalian sudah menunggu lama?" tanya gadis itu dengan nafas tersengal. Ia menatap paman Ryan sahabat karib mamanya, sekaligus tour guide mereka dengan rasa bersalah. Mata sipitnya bergerak lincah menatap ke sekeliling. Sejenak, tatapannya berhenti pada sosok tinggi bermantel merah maroon yang berdiri tidak jauh darinya. Lelaki itu tampak mencolok karena posturnya yang menjulang. Sebuah syal bewarna hitam melingkar di lehernya dengan sempurna.
"Tenang saja, Senja. Kita belum terlambat, kok"
Suara paman Ryan mengalihkan perhatian gadis bernama Senja dari laki-laki bermantel merah maroon tersebut. Ia kembali menatap pria ramah di hadapannya seraya tersenyum lega.
"Syurkurlah. Aku pikir aku sudah terlambat. Ah, Bibi juga ikut rupanya?" tanya Senja saat dirinya melihat Tante Ilya istri Paman Ryan tengah berbincang hangat dengan salah satu anggota rombongan.
"Iya. Jalan-jalan, sekalian bulan madu lagi," canda Paman Ryan seraya tertawa. "Nah, mari Paman perkenalkan kamu pada anggota rombongan tur kali ini. Tadi yang lain sudah berkenalan sebelum kamu tiba," ujar Paman Ryan.
Senja mengangguk antusias
"Ini Kakek Haru dan Nenek Yasmin." Paman Ryan menoleh pada pasangan suami istri yang meskipun sudah berumur separuh abad, tetap terlihat kompak dan mesra, Selain Kakek Haru dan Nenek Yasmin, ada dua pasangan muda lain yang tak kalah mesranya, juga tiga kakak beradik yang sedang liburan kuliah. Masing-masing dari mereka adalah Satria dan Alya, Indra dan Calista, Nissa, Khila, dan Ve. Ada pula Paman Seya, yang sedang berlibur bersama putra bungsunya Viko, yang berumur 12 tahun. Terakhir, Paman Ryan menunjuk lelaki tinggi bermantel merah maroon yang sempat menarik Senja.
"Nah, kalau yang itu namanya Langit."
Mendengar namanya disebut, Langit menoleh sejenak menatap Paman Ryan. Kemudian ia beralih pada Senja. Hanya sejenak sepasang mata elangnya menatap gadis berkulit putih dan berkulit putih itu, lalu ia kembali sibuk dengan iPod di tangannya.
"Jadi anggota tur kali ini berjumlah 15 orang, termasuk saya dan Tante Ilya," terang Paman Ryan.
Sesaat setelah acara perkenalan itu, Paman Ryan segera mengurus bagasi rombongannya. Ia kemudian menyerahkan kembali passport, membagikan visa dan tiket boarding pass, lalu mengajak para peserta tur masuk ke ruang tunggu.
"Para rombongan yang terhormat, karena anggota tur kita sudah lengkap, saya dengan resmi menyatakan perjalanan Eropa selama 13 hari bersama Ryan Jaya Tour dimulai! Enjoy the journey!" seru Paman Ryan lantang, membuat seluruh peserta rombongan bersorak dan bertepuk tangan, tak terkecuali Senja.
Sejenak, ia menoleh menatap lelaki bernama Langit yang tampak tak menunjukkan ekspresi apa pun. Jangankan bersorak, tersenyum saja tidak. Senja mengernyit. Apa jadinya perjalanan 13 hari keliling Eropa nanti jika ia harus satu rombongan dengan lelaki dingin itu?
DAN perjalanan pun dimulai. Harry potter and the Prisoner of Azkaban
Senja tersenyum puas saat melangkah memasuki pesawat. Liburan keliling Eropa ini memang sudah diimpikan Senja sejak lama. Namun, tur yang diadakan Paman Ryan selalu bertepatan dengan liburan Natal, dan tentu saja, tidak mudah untuk mendapatkan cuti di saat semua manusia berbondonng-bondong hendak liburan juga. Sykurlah, atasan Senja akhirnya memberikan izin cuti kepada Senja, dengan alasan bahwa sang kepala redaksi belum pernah sekalipun mengambil cuti sepanjang tahun ini. Hal itu memang sudah di rencanakan Senja untuk menarik simpati Pak Johanes, dan Senja berhasil!
Karenanya, ketika tak seorang pun yang berniat menemaninya melewati liburan Natal dan tahun baru itu, Senja tetap bertekad untuk berangkat walaupun harus sendirian. Toh, ada Paman Ryan dan Tante Ilya yang dikenalnya. Tentu saja, mengenal orang-orang baru juga tak kalah mengasyikkan, bukan?
Langkah Senja terhenti saat menemukan kursi yang di carinya. Senja menengadah dan mengintip ke bagasi di atas tempat duduk berderet tiga itu, berniat untuk menyimpan tas jinjing yang dibawanya masuk ke pesawat. Ah, ia tidak cukup tinggi.
Setengah berjinjijt, Senja mengangkat tas merahnya dan mendorong tas itu dengan kuat, hingga dirinya kehilangan kesimbangan saat tas tersebut berhasil masuk ke dalam bagasi kabin. Tubuh mungil gadis itu terdorong ke belakang dan tanpa sengaja menabrak seseorang di belakangnya.
"Ma... maafkan aku..." Senja menoleh menatap orang yang tak sengaja ditabrakanya. Matanya melebar kala mengenali sosok itu. Langit. "Eh, Lang. Sori, aku nggak..."
"Cepat duduk. Kamu nggak berniat bikin macet di dalam pesawat, kan?" potong Langit ketus, membuat Senja mengurungkan niat untuk melanjutkan ucapannya. Di belakang mereka tampak bebrapa orang tengah mengantre untuk lewat.
Buru-buru, Senja beringsut duduk. Hatinya seketika ciut saaat menyadari Langit memasuki deretan kursi yang sama dengannya. Oh, tidak! Perjalanan Menuju Abu Dhabi memakan waktu tujuh jam lebih. Dan ia harus menempuh perjalanan panjang itu dengan duduk di sebelah lelaki menyebalkan bernama Langit? Sungguh awal yang baik.
Niatnya tulus. Sungguh. Ia tadi menyapa Langit karena satu alasana saja: Langit akan menjadi teman perjalanannya selama tiga belas hari ke depan.Tapi dijawab seketus itu, Senja sama sekali tidak menyangka. Apa lelaki di sampingnya ini antisosial, atau bawaan dari lahir saja sudah ketus begitu? Senja menghela nafas panjang karena tak juga menemukan jawabannya.
Sudah satu jam ia duduk di dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju Abu Dhabi - transit sebelum akhirnya menuju kota tujuan Roma, tapi ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Kesalahan terbesarnya adalah, ia lupa membawa buku bacaan yang sudah di simpannya di meja rias pagi tadi. Apa ia menluis saja? Ia berjanji pada Pak Johanes bahwa ia akan memberikan liputan ekskulusif selama perjalanannya ke Eropa untuk majalah Hi, Girls!. Janji yang memberatkan, ia tahu. Sayangnya, karena terlalu excited dengan persetujuan cuti itu, Senja tak pikir panjang lagi waktu menawarkannya.
Senja membuka tas ranselnya dan berusaha menemukan buku memo yang tenggelam di antara kamera, kacamata, sekotak coklat, dan barang-barang lain yang sebetulnya tidak terlalu penting tapi selalu lupa disimpan atau dibuangnya Salah satunya bon belanjaan buku yang sudah menumpuk di dalam tasnya. Saat sedang sibuk mengaduk-aduk isi tasnya, mendadak sebuah suara menegurnya.
"Kamu bisa tenang sedikit nggak, sih? Berisik, tahu nggak?" ujar pemilik suara yang kini menatapnya tajam.
Senja menelan ludah. Apa sih, salah dan dosanya sampai-sampai harus duduk di sebelah lelaki aneh bin ketus ini? Padahal kan, ia hanya berniat ,mencari buku memonya. Lagi pula, hei, lihat itu di telinganya! Earphone terpasang begitu sempurna mnutupi kedua telinga Langit. Masa iya, suara Senja yang sedari tadi mengaduk-aduk isi tasnya untuk menemukan si memo dapat mengalahkan suara musik nan merdu dari iPod lelaki itu?
Menyadari tatapan protes Senja, Langit buru-buru melepas earphone-nya dan berkata, "Volumenya hanya satu, cukup pelan untuk mendengar suara berisik yang kamu ciptakan barusan. Belum lagi kamu sejak tadi tampak gelisah dan nggak bisa duduk manis. Memengganggu kosentrasiku," ujarnya sembari menunjuk notes yang tengah di pakainya untuk menulis. "Kenapa sih, kamu nggak tidur aja?"
Senja mencibir pelan saat mendengar omelan yang keluar dari mulut Langit. Memangnya apa sih yang tengah di kerjakannya sampai perlu kosentrasi segala? Senja memberanikan diri untuk melirik isi notes di tangan Langit. Matanya melebar saat menemukan notasi-notasi balok di sana.
"Kamu menulis lagu?" Senja tak dapat menyembunyikan ketertarikannya begitu melihat isi notes di tangan Langit.
Menyadari mata Senja yang awas, Langit buru-buru membalik notesnya dan menatap Senja dengan tatapan itu-bukan-urusanmu.
Senja cemberut. "Kita pernah bertemu sebelum ini, ya?" kalau iya, aku pasti pernah berbuat kesalahan waktu itu sampai kamu seketus ini padaku, tambah Senja dalam hati. Pertanyaan Senja rupanya berhasil memancing Langit untuk menoleh ke arahnya.
Lelaki tu tertawa sinis. “Jangan coba-coba merayuku dengan cara kuno seperti itu.”
Senja membelalak. Idih! Selain menyebalkan, lelaki bernama Langit ini ternyata juga ge-er-an! “Lebih baik aku tidur daripada melanjutkan obrolan nggak jelas dengan tukang ke-ge-er-an seperti kamu,” rutuk Senja sebal, sembari menutup tas ranselnya. Ia sudah kehilangan selera untuk menulis artikel sekarang.
“Bagus, lebih baik kamu tidur saja daripada menggangguku dengan rayuan kunomu itu.”
“Aku nggak sedang merayumu, tahu!” balas Senja sebal. Gadis itu menghentakkan kakinya dengan gemas, lalu buru-buru memejamkan mata. Ternyata, di dunia ini lelaki ke-ge-er-an itu masih ada!
Membiarkan gadis berisik di sampingnya ini tidur pun bukan pilihan yang tepat, rupanya. Langit mendesah sembari mendorong kepala Senja yang terkulai di bahunya untuk ke lima. Diliriknya Paman Seya yang juga tertidur pulas di sisinya, namun lelaki paruh baya itu tampak nyaman dengan posisinya yng bersandar pada bantalan kursi pesawat.
Mengapa gadis ini tidak dapat tidur dengan cara yang lebih normal, sih? Langit menghela napas panjang saat kepala yang sudah didorong menjauh itu kembali terjatuh di bahunya. Ah, sudahlah. Percuma saja ia terus mencoba.
“Wah, wah. Senja tampaknya teridur pulas, Lang?”
Suara Paman Ryan, sekaligus wajahnya yang menyembul dari bangku depan dengan tatapan menggoda, membuat Langit menatapnya setengah frustasi.
“Ia cantik, cocok dengan keponakan Paman yang tampan ini,” goda Paman Ryan semakin menjadi-jadi
Langit menghela napas panjang untuk kali sekian. “Paman, tolong hentikan lelucon konyolmu ini segera.”
“Senja gadis yang baik. Ia putri sahabat karib Paman. Kalian cocok, kok. Kristal toh sudah menikah, Lang. Kamu nggak bermaksud nungguin dia cerai, kan?” ujar Paman Ryan, yang dalam sekejap mata berhasil membawa kembali kepingan masa lalu Langit saat mendengar nama itu disebut.
“Aku nggak mengharapkan Kristal kembali, Paman. Nggak pernah. Lagi pula, semua sudah usai setahun yang lalu. Tapi aku juga nggak mengharapkan orang yang menggantikan Kristal adalah gadis yang merepotkan seperti...” Langit berjengit, tampak berpikir sesaat. “Siapa pun namanya...” Ia akhirnya menyerah karena tidak berhasil mengingat nama gadis di sampingnya itu.
“Senja. Namanya Senja.” Paman Ryan mencoba menolongnya mengigat ingat.
“Baiklah, siapa pun dia, aku nggak pernah berharap orang yang akan menggantikan Kristal adalah dia. Jadi, jangan teruskan ide konyol ini, Paman. Aku tahu kursi kami bersebelahan bukan karena kebetulan. Belum puaskah Paman mengganguku dengan ide konyol itu sepanjang minggu ini?” tanya Langit jenggah.
Melihat Paman Ryan buru-buru mengangkat bahu dan berputar kembali ke posisi duduknya yang semula membuat Langit semakin tak berdaya di buatnya. Entah apa yang akan terjadi selama tiga belas hari ke depan dengan Paman Ryan dan gadis bernama Senja di dalamnya.
Langit benar-benar penasaran.
“EH, bangun!”
Senja tersentak kala seseorang menepuk pipinya dengan kuat. Sebelum kesadarannya pulih, lelaki yang baru dikenalnya beberapa jam lalu itu telah mendorong bahunya dengan kuat.
Senja mengerjap. “Astaga! Apa aku ketiduran?” tanya Senja yang masih diselimuti kantuk itu membuat mata Langit melebar sekeitka.
“Ketiduran, katamu? Kamu sudah tidur selama 5 jam lebih!” Langit memijat bahunya yang terasa kaku.
Dahi Senja berkerut bingung saat menatap ekspresi Langit yang menyebalkan. Kantuknya lenyap tak tersisa seketika. “Kenapa kamu mengomel karena aku tidur? Bukannya tadi kamu setuju aku tidur supaya aku nggak ribut?” Senja sengaja memberi penekanan pada kata ribut, karena masih tidak terima acara bongkar tasnya dianggap bikin ribut. Kemudian, karena sadar Langit masih memijti bahunya, Senja bertanya, “Dan apa yang terjadi dengan bahumu selama aku tidur?”
Langit menghela napas panjang saat mendengar pertanyaan Senja. Ia menatap Senja dengan tatapan sungguh-kau-tak-tahu-ini-karena-apa, membuat Senja semakin kebingungan.
“Nggak usah dibahas. Buruan turun, kita sudah sampai di Abu Dhabi,” ujar Langit pada akhirnya. Ia melangkah ke luar menuju lorong kabin pesawat, kemudian mencegat beberapa penumpang di belakangnya, memberi ruang agar Senja dapat keluar. “Tasmu biar aku yang ambil dan bawa keluar. Supaya nggak macet lagi!” ujar Langit yang membuat Senja seketika cemberut.
“Biar aku bawa sendiri!” umpat Senja sembari merebut tas jinjingnya yang baru saja diturunkan Langit. Gadis itu melangkah turun dari pesawat dengan perasaan sebal bercampur heran. Sebenarnya apa sih salahnya pada Langit? Kenal saja tidak, mengapa Langit bersikap sebegitu menyebalkan padanya?
Luka yang kau simpan, sudahlah
Mungkin ini saat yang tepat untuk mengemasi semua.

Langit mengisi kata demi kata di notesnya sembari menunggu penerbangan berikut menuju Roma di salah satu restoran fast food burger yang terletak di lantai dua Abu Dhabi International Airport. Ia melirik jam tangannya. Pukul 9 malam. Di Indonesia, sekarang sudah pukul 12 malam. Pantas saja ia mulai merasa ngantuk. Langit menyesap kopinya perlahan. Penerbangan menuju Roma masih lima jam lagi. Mungkin ia akan menghabiskan waktunya di sini, sebelum nanti berkumpul bersama para rombongan di depan gerbang Duty Free yang terletak di lantai 1.
Langit mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling. Suasana bandara malam tampak ramai. Counter-counter makanan dan minuman tampak disesaki oleh pengunjung dari berbagai negara. Sepertinya bandara ini memang tak pernah sepi.
Setelah puas mengamati sekitarnya, Langit kembali menekuni lirik lagu yang baru ditulisnya dan tertegun. Tanpa sadar ia menarik napas panjang. Mungkinkah ia dapat mengemasi semua kenangan indah yang memberi luka?
“Di sini rupanya kamu.”
Sebuah suara menarik Langit keluar dari lamunannya. Tangan gadis itu terulur, menyodorkan iPod yang baru di sadari Langit tidak ada di saku mantelnya. Langit menengadah, menemukan Senja yang tengah menatapya cemberut.
“Paman Ryan yang menyuruhku memberikannya padamu kalau-kalau kita bertemu. Ia bilang kamu pasti ada di food court, karena kamu nggak hobi belanja. Paman Ryan masih ada di Duty Free, berbelanja dengan Tante Ilya di counter jam tangan. Mereka tampak begitu antusia, sehingga aku nggak tega untuk menolak permintaan Paman Ryan yang baik hati itu meskipun aku malas berurusan denganmu,” terang Senja panjang lebar.
Langit menghela napas panjang dan meraih iPod miliknya dari tangan Senja. Ia teringat pertemuannya dengan Paman Ryan di toilet tadi yang membuat menitipkan iPod-nya.
“Seharusnya kamu nggak perlu repot-repot mengantarkannya. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti.”
Senja mendengus sebal saat mendengar jawaban Langit. Ia memang tidak sengaja bertemu Langit di sini. Tapi ada di sini dan berbaik hati menyerahkan barang milik lelaki itu yang ketinggalan, bukankah seharusnya Langit berterimakasih dan bukan bersikap sebaliknya?
“Ada apa? Dari tampangmu, kau terlihat kecewa. Jangan bilang aku harus bertanggung jawab sudah mencuri waktu belanjamu karena iPod ini. Aku nggak memintamu untuk mencariku,” cetus Langit saat melihat Senja masih saja cemberut dan membisu di depannya.
Kalau saja Senja tidak ingat betapa mahalnya barang-barang di luar negeri, ia pasti sudah meraih gelas kopi di meja Langit dan menyiramkannya di wajah lelaki itu.
Senja memutuskan berbalik pergi. Malas menanggapi lelaki aneh yang bersikap ketus padanya tanpa alasan yang jelas. Ia tidak perlu menjelaskan pada Langit bahwa kehilangan satu-dua jam waktu berbelanja tidak ankan membunuhnya. Ia juga tidak perlu takut lagi Langit akan mengira dirinya sengaja berkeliling untuk mencari dirinya. Ia memang sudah selesai berkeliling di Duty Free. Pakaian, tas, jam tangan, dan counter-counter bermerek lainnya tidak berhasil menarik minatnya. Lain halnya bila menemukkan toko buku. Mungkin ia akan betah berjam-jam berada di dalam sana.
Perjalanan tiga belas hari ini memang hendak dihabiskannya untuk menikamati panorama dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah,bukan untuk menghabiskan uang dengan shopping. Mungkin ia hanya akan membelikan oleh-oleh untuk orang kantor.
Dengan perasaan dongkol, Senja bergegas turun ke lantai satu. Ia sudah kehilangan selera untuk makan.

Pesawat mereka akhirnya berangkat menuju Roma pukul 02.30 pagi. Lagi-lagi, Senja duduk satu deret dengan Paman Seya dan Langit. Dalam hati, Senja berjanji selama berada di bus perjalanan nanti, ia akan mencari posisi duduk sejauh mungkin dengan Langit. Maaf saja jika disangka naksir atau coba-coba pedkate! Hah!
Senja mengeluarkan notes dari dalam tasnya dan memulai menulis artikel perjalanannya. Saat tengah asyik menulis, ia menyadari tatapan Langit tengah tertuju padanya.
“Mau apa?” tanya Senja ketus. Ia menjauhkan notesnya, sama seperti Langit yang menyembunyikan notes berisi not baloknya. Satu sama!
“Aku nggak berniat mengintip tulisanmu. Sama sekali nggak penting. Tapi arah pandanganku terbatas.” Langit mencoba menjelaskan.
“Nggak penting, menurutmu? Oh, nggak apa. Toh kamu bukan pembaca majalah Hi, Girls!,?” rutuk Senja sebal.
“Kamu menulis untuk majalah Hi Girls!?” Langit mendelik Senja tak percaya. “Semoga majalah itu bersedia menerima tulisanmu,” sindir Langit tajam. Meski tidak pernah membaca majalah Hi, girls!, Langit sering sekali melihat majalah-majalah itu berserakan di ruang tamu atau kamar adiknya, Lea. Dari Lea pula Langit tahu, bahwa majalah Hi, Girls! Cukup populer di kalangan anak remaja. Lea yang masih duduk di bangku 2 SMA itu juga mengoleksi setumpuk komik dan novel. Sifat Lea yang sangat gemar membaca itu berimbas pada Langit. Ia selalu memaksa Langit memberi pendapat tentang sebuah artikel yang tengah dibacanya, atau menebak ending dalam sebuah novel. Di tas Langit sekarang bahkan ada satu buku tebal yang dijejalkan Lea diam-diam dengan sebuah catatan pesan di atasnya: “Teman di saat suntuk selama berada di pesawat”
“Bagaimana menurutmu?”
Alih-alih marah, Langit terheran heran saat melihat Senja tersenyum lebar atas sindirannya. Dari cara gadis itu menatapnya, Lagit tahu persis bahwa Senja tengah menyimpan sebuah rahasia.

“Apa kamu freelancer di sana?” tanya Langit, yang tidak dapat lagi menutupi rasa penasarannya. Yang ditanya tidak menjawab. Hanya mengangkat bahu sambil tersenyum senang di sampingnya. Langit buru-buru membuang muka dan pura-pura sibuk dengan notesnya. Dalam hati ia berdoa, semoga mereka segera mendarat di kota Roma.

Kamis, 01 Mei 2014

One Direction - You & I



I figured it out.I figured it out from black and white.Seconds and hours.Maybe they had to take some time.
I know how it goes.I know how it goes from wrong to right.Silence and sound.Did they ever hold each other tight.Like us did they ever fight, like us.
You and IWe don't wanna be like them.We can make it to the end.Nothing can come between.You and I.
Not even the Gods above.Could separate the two of us.No, nothing can come between.You and I.Oh, you and I.
I figured it out.Saw the mistakes of up and down.Meet in the middle.There's always room for common ground.
See what it's likeSee what it's like for day and night.Never together.Cause they see things in a different light.
Like us,they never tried like us.
You and IWe don't wanna be like them.We can make it to the end.Nothing can come between.You and I.
Not even the Gods above.Could separate the two of us.
Cause you and IWe don't wanna be like them.We can make it to the end.Nothing can come between.
You and I.Not even the Gods above.Could separate the two of us.Nothing can come between.
You and I.Not even the Gods above.Could separate the two of us.Nothing can come between.
You and I.Oh, you and I.You and I.We can make it if we try.Oh, you and I.

Rabu, 09 April 2014

Cara Install BlueStacks di Komputer

Sobat ingin memainkan game Android di komputer atau laptopnya ? Sobat bisa menjalankan berbagai aplikasi Android pada PC kamu dengan menggunakan softwareBlueStacks. Simak cara install BlueStacks di komputer atau laptop sobat.

Saat sobat menggunakan smartphoneAndroid, terkadang sobat menemukan aplikasi yang menarik dan sepertinya dapat berguna jika dapat diinstall pada komputer. Hal ini sobat bisa dilakukan dengan menggunakan emulator yang memungkinkan aplikasi Android dijalankan pada PC.

BlueStacks adalah software emulator Android yang memungkinkan sobat untuk dengan mudah men-download dan install aplikasi Android favorit Sobat ke Komputer.

Untuk memudahkan penggunanya, BlueStacks terintegrasi dengan sistem PC. Klik My Computer dan Sobat akan menemukan folder My Apps. Disini, Sobat bisa membuat shortcut untuk aplikasi yang sobat miliki dan menempatkannya di desktop untuk mempermudah akses.
Karena sebagian besar aplikasi Android saat ini dirancang untuk tablet, maka tampilan aplikasi sangat cocok digunakan pada PC.

Kemudian sobat dapat menggunakan mouse sebagai pengganti jari ketika mengakses dan mengoperasikan berbagai aplikasi yang ada. Jika kamu menggunakan PC touchscreen, maka sobat bisa mengoperasikannya seperti pada smartphone atau tablet Android.

BlueStacks juga menyediakan beberapa tombol di bagian bawah sebagai pengganti softkey yang biasa ditemukan pada device Android, yang tentunya menjadi bagian penting dalam menjalankan software ini.
Nah, sekarang kamu sudah mengetahui fungsi software BlueStacks. Lalu, bagaimana cara instalasi BlueStacks pada Komputer di Windows?

Cara Install BlueStacks di Komputer


  1. pertama sobat harus terlebih dahulu men-download BlueStacks
  2. Setelah download selesai, klik file installer untuk mulai menjalankan instalasi. Lalu klik "Continue" untuk melanjutkan
  3. Centang App Store access dan App Notification, kedua hal ini penting agar BlueStacks dapat bekerja secara optimal. Selanjutnya, klik tombol "Install
  4. Proses instalasi akan berjalan selama beberapa waktu, tergantung komputer kamu.
  5. Setelah instalasi selesai, Home Screen akan tampak seperti berikut : 
  6. Klik search bar di kanan atas untuk mencari aplikasi yang ingin kamu download dan install.
  7. Contohnya kamu ingin menginstall Angry Birds Star Wars, maka ketikkan di search box tersebut kemudian klik install.
  8. Lalu sobat akan menemukan 4 source aplikasi Angry Birds Star Wars, yaitu 1Mobile, GetJar, Amazon Apps dan Google Play.
  9. Sobat bisa langsung download aplikasi dari 1mobile atau GetJar, sementara Amazon Apps dan Google Play akan meminta sobat untuk sign-in sebelum download.
    Pilih source yang sobat inginkan, kemudian download dan install.
Setelah instalasi selesai, sobat bisa mengakses setiap aplikasi melalui "My Apps".

Dengan menggunakan BlueStacks, kamu dapat menjalankan berbagai aplikasi Android di PC dengan mudah. Bahkan games dengan grafik yang cukup tinggi dapat berjalan dengan mulus.

perlu diketahui BlueStacks adalah sebuah emulator, namun sobat benar-benar dapat menikmati pengalaman yang mengesankan. sobat dapat menggunakan hampir seluruh aplikasi Android menggunakan BlueStacks. Walaupun saat ini BlueStacks masih dalam tahap Beta, namun software ini cukup mengesankan dan direkomendasikan bagi sobat yang membutuhkan emulator Android.

System Requirements:
  • Processor 1 GHz atau lebih.
  • RAM 2 GB atau lebih.
  • Kapasitas hard disk minimum 800 MB.
  • OS Windows XP, Vista & 7 (32 dan 64 bit)
Cukup jelaskan cara cara nya dan Selamat mencobanya sobat.
Source : cara instal bluestack, cara install bluestack, cara menjalankan  android, cara menjalankan aplikasi android, menjalankan aplikasi android di pc, menjalankan aplikasi android di laptop, cara menjalankan  android di laptop, cara menjalankan  android di pc, cara menjalankan  android di komputer, cara cara install android jelly bean.

Rabu, 02 April 2014

Cara Cepat Menghafal Rumus


Cara Mudah Mengahafal Rumus - Menghafal rumus matematika memang terkadang menemui beberapa kendala. Selain kemampuan daya ingat masing-masing orang berbeda, bentuk rumus matematika yang mirip-mirip pun menjadi hambatan tersendiri bagi kita yang ingin menghapalnya. Terkadang saat menghapal rumus matematika itu malah menjadi tertukar dengan rumus lainnya.Ada beberapa cara dalam memudahkan kita untuk menghafal rumus matematika. Sebelum memulai, ada baiknya kita sedikit mengetahui karakteristik otak manusia. Pada dasarnya, otak manusia bisa menyimpan memori atau ingatan yang lebih lama jika dibantu dengan visualisasi yang sesuai. Otak kiri dicirikan dengan karakteristik yang berhubungan dengan kemampuan analisis, logis, urutan, objektif dan rasional. Dengan karakterisitik ini, orang yang dominan menggunakan otak kiri cenderung memiliki pendekatan rasional terhadap kehidupan.Di sisi lain, karakteristik yang terkait dengan otak kanan adalah intuitif, acak, subjektif, holistik (secara menyeluruh) dan sintesis. Dengan karakteristik ini, orang yang dominan dengan otak kanan cenderung lebih kreatif ketimbang orang yang dominan otak kiri. Orang dengan dominansi otak kanan lebih cenderung menyukai aspek visual, seni, musik dan imajinasi.Secara singkat, otak manusia yang digunakan untuk menyimpan memori terbagi kepada dua bagian, yaitu otak kiri untuk perhitungan, dan otak kanan dengan fungsi visual atau imajinasi. Mungkin anda pernah bertemu dengan seseorang tapi anda lupa siapa namanya. Hal ini dikarenakan otak lebih cepat menyimpan informasi yang terlihat wujudnya, atau dengan kata lain ada visualisasi. Menghafal dengan cara mengulang-ulang kata atau kalimat itu nampaknya masih kurang memiliki dukungan visualisasi, sehingga berikut ini akan saya share tentang teknik menghafal rumus matematika menggunakan warna.Cara menghafal rumus matematika dengan warna ini semoga dapat mempermudah kita dalam menghafal rumus yang kebanyakan orang bilang “susah”. Karena dengan warna kita dapat menggunakan sekaligus otak kanan dan otak kiri kita untuk langsung bekerja menghafal rumus-rumus yang kita inginkan (kalau tidak percaya, silakan tanya kepada para akhlinya). Dengan warna tidak lain kita akan cepat mengingat apa yang kita lihat. Silakan coba menghafal dengan warna default (hitam) dan bandingkan dengan menghafal menggunakan warna tentu kita lebih cepat menghafal dengan warna. Maka dari itu mulai dari sekarang, silakan anda coba menghafal rumus dengan cara sebagai berikut:Alat Bahan:1. Kertas HPS (Kertas Kosong)2. Beberapa sepidol, minimal 2 dengan warna cerahCara menggunakannya anda cukup menulis ulang rumus yang akan anda hafal di kertas kosong tersebut dengan menggunakan warna yang yang berbeda untuk masing-masing rumus yang akan dihafalkan. Kemudian silakan cari tempat yang anda rasa nyaman (Usahakan bebas dari polusi dan udaranya sejuk). Maka rumus akan cepat anda hafal.Semoga dengan metode menghafal rumus dengan membedakan warna seperti yang tadi telah dibahas, dapat mempermudah pembaca sekalian dalam menghafal rumus matematika. 

Sabtu, 22 Februari 2014

I Would - One Direction

One Direction I Would is a track from their album "Take Me Home".


 
Lately I found myself thinking
Been dreaming about you a lot
And up in my head I'm your boyfriend
But that's one thing you've already got

He drives to school every morning
While I walk alone in the rain
He'd kill me without any warning
If he took a look in my brain

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would (I would)
Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would

Back in my head we were kissing
I thought things were going alright
With a sign on my back saying ‘kick me'
Reality ruined my life

Feels like I'm constantly playing
A game that I'm destined to lose
'Cause I can't compete with your boyfriend
He's got 27 tattoos

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would (I would)
Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would (I would, I would)

Would he please you?
Would he kiss you?
Would he treat you like I would (I would)?
Would he touch you?
Would he need you?
Would he love you like I would?

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would

Would he please you? Would he please you?
Would he kiss you? Would he kiss you?
Would he treat you like I would? (like I would)
Would he touch you? Would he touch you?
Would he need you? Would he need you?
Would he love you like I would?

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would, I would, yeah, I would, yeah.

Minggu, 16 Februari 2014

Gombal VS Galau

Gombal VS Galau

“Bunda, Melia berangkat dulu ya” (beranjak dari teras langsung berjalan mencari Bunda untuk pamit dan mencium tangannya) ribet nggak dibayangin? Intinya begitulah.
“Iya, sering-sering berangkat pagi Mel” kata Bunda sambil melihatku menuju motor.
“Jamnya tadi mati Bun, Melia kira udah telat” jawabku sambil menoleh kepada Bunda
“ohh…jangan dibelikan baterai ya Mel! Biar kamu berangkat pagi terus” kata Bunda sambil tersenyum. “yahh….itu sih efek 2M bun” Jawabku sambil nyengir. “apa lagi tuh kepanjangannya Mel?” Tanya Bunda penasaran. “makan dan mandinya Melia ‘kan lemot, Bun” Jawabku polos. “hahaha…..kamu sadar sendiri, ya sudah berangkat sana” jawab Bunda dengan ketawa kecilnya. “Siap Bunda!” Jawabku.

***
Setelah sampai disekolah, suasana yang sangat jarang aku temui. Para siswa masih bisa dihitung dengan jari telunjukku alias belum ramai. Selama perjalanan ke kelas, aku asyik mendengarkan lagu Bondan Prakoso disusul Jamrud pada I-podku. Semakin dekat dengan kelas, dari celah jendela terlihat Vita teman sekelasku sedang sibuk piket kelas hari ini.


“Selamat pagi, Vita” Sapaku dengan senyum merekah. 

“Tumben berangkat jam segini, Mel” Kata Vita sambil nyengir. 
“Yahhh…..jawab sapaku dulu kek” kataku dengan nada kesal. 
“Uppss….Sorry! Good Morning Melia” jawab Vita dengan gaya Britishnya. 
“haduuhh…..Vita, Vita….turun pamor kalau kamu ngomong English. Bedo’ Jawamu itu lohh masih kental banget. Whuahahaha” Ledekku pada Vita. 
“yahh…terserah kamu saja Mel.” Jawab Vita dengan nada kesal.



Jam terus berputar! uppss…..maksudku waktu terus berputar. Semakin lama, semakin banyak kaki yang berjalan menuju kelas masing-masing untuk menimba ilmu (bukan menimba air ya! Itu beda lagi). Sementara aku sangat menikmati pemandangan disekitar sekolah yang penuh penghijauan sambil duduk di depan kelas dan sibuk mengutak-atik I-podku.


Yo’ Ku jelang matahari dengan segelas teh panas
Di pagi ini ku bebas, karena gak ada kelas
Di ruang mata ini, kamar ini serasa luas
Letih dan lelah juga, lamba-lambat terkuras
Teh sudah habis, kerongkonganku pun puas
Mulai kutulis semua kehidupan di kertas
Hari-hari yang keras, kisah cinta yang pedas
Perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas
Reff: Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli ‘tuk ironi tragedy
Senang bahagia, hingga kelak kau mati

Aku ikut bernyanyi setiap lagu pop asli Indonesia yang kudengar dari I-podku. Tiba-tiba kudengar suara: Tuttt….Tuuttt…..Tuuttt….(bukan suara kentut, tapi bel masuk sudah berbunyi). Aku segera bergegas ke kelas, sebelum pelajaran dimulai. Kami sarapan rohani terlebih dahulu atau membaca do’a agar Tuhan juga membantu perkembangan Ilmu kami.

Yap…..15 menit berlalu. It’s time to study. Pelajaran pertama kebetulan gurunya sedang ada pelatihan diluar kota, jadi kelasku mendapat pesan untuk mengerjakan latihan soal yang ada di buku paket masing-masing. Di tengah mengerjakan soal, aku baru sadar ada temanku yang sedang asyik diam, melamun, dan melototin buku paketnya doang. Namanya Raisha, biasanya dia selalu meramaikan kelas dengan kejailannya bersamaku. Tapi, sayang sekali hari ini dia hanya diam. Aku berharap dia bukan sakit gigi, biasanya kalau sakit gigi ‘kan jarang bicara.

Hampir 1 jam berlalu, kelas ku sangat-sangat sunyi, sepi, dan hening layaknya kuburan. Akhirnya kursi paling belakang ada yang nyeletuk nyanyi lagu-lagu pop (bukan kursinya yang nyanyi ya, tapi temanku yang duduk di kursi paling belakang) dan teman-teman termasuk aku juga ikut bernyanyi untuk memecah suasana serius kami karena soal-soal tersebut. Tetapi, Raisha masih saja terdiam tanpa respon sedikitpun. Kemudian, Vita teman sebangkunya mencoba bertanya keadaannya, tetapi Raisha tetap ‘tak menggubris. “sepertinya Raisha sedang galau” tebakku dalam hati

Karena penyakit penasaran plus jailku lagi kambuh, aku coba memberanikan diri untuk jailin dia. Tapi jailnya bukan ikat tali sepatunya atau mainin penghapus whiteboard yang biasa akku tempelin di tangan teman-teman. Kalau itu yang aku lakuin, maka niat aku untuk menghibur malah salah jalur nanti. Hari ini jailku beda, spesial untuk Raisha partner Jail dikelasku. Cukup lama aku mikir, nggak tau kenapa langsung dapat wangsit buat ngegombal aja. Siapa tau ampuh buat memberantas kegalauannya. Akhirnya aku tutup buku, dan beranjak untuk menghampiri Raisha dan duduk disampingnya. Kebetulan Vita lagi nabung di toilet (Gubrak).

“Ehemm..Ehemm..Sha, buku siapa ini? Keren sampulnya” kataku memulai pembicaraan. 
“Milikku, Mel” Jawab Raisha singkat tanpa menoleh sedikit pun. 
“Wahh…indah ya, seindah parasmu” kataku sambil nyengir. 
Tiba-tiba Vita langsung menghampiriku dan berkata 
“Emangnya wajah Vita mirip sampul ya?”. 
“Iya, sampul hatiku. Udah selesai kamu nabung?” tanyaku. 
“udah..lega rasanya! Hehe” jawab Vita. 
“selega hatiku jika melihat Raisha tersenyum merekah kembali ‘bak mawar merah” kataku menggombal lagi. 
“wahh….parah nih, cewek digombalin juga sama Melia” kata Vita dengan wajah curiga. 

Tiba-tiba Raisha menoleh dan langsung memegang dahiku dengan punggung tangannya. 
“suhu tubuhmu nggak panas, whuahahaha…Mel, Mel kebanyakan nonton Fesbukers kamu ya? Gombalan kamu buat perutku nggak bisa nahan ketawa” kata Raisha sambil memegang perutnya. 
“gitu dong ketawa! Kenapa sih kamu tadi diam aja?” tanyaku penasaran.
“ohhh…..galau gara-gara Revan cowokku” jawab Raisha dengan santainya.

Setengah jam Aku dan Vita sempatkan waktu mendengarkan curhatan Raisha. Ternyata galau karena diselingkuhin. Hmmmm…..zaman sekarang pacar nggak cukup satu. Jadi, Aku sih nggak mau repot mikirin soal playboy atau playgirl. Karena karma itu masih berlaku, bisa dibilang hukum sebab-akibat kata guru fisika. Karena setelah putus dari Raisha, si Revan malah diselingkuhin sama pacar pertamanya dan dia juga harus pindah sekolah karena orang tuanya terancam bangkrut. Apes banget hidupnya. Tapi dari kegalauan yang dirasakan Raisha, aku bisa tau kalau hadiah atau kata-kata motivasi memang bisa melawan galau. Tapi yang lebih ringan tanpa ngerepotin diri sendiri itu adalah “ngegombal”. Ada kesan tersendiri digombalin begitu.
***

Keesokan harinya Raisha malah gantian ngegombalin aku dan dia enjoy setelah mutusin Revan.

“Mel, kamu tau nggak perbedaan kamu sama matematika?” Tanya Raisha padaku sambil menjambret I-podku untuk mengecilkan volumenya. 
“nggak tau, emangnya apa?” tanyaku penasaran. 
“kalau matematika semakin dipelajari semakin buat aku pusing, tapi kalau pelajarin kehidupan kamu semakin buat aku nambah cinta” jawab Raisha dengan ekspresi serius. 
“whuahahaha…..ueekkk nggak mempan gombalannya mbak’e” ledekku.
“dasaar…coba balas gombalanku” tantang Raisha kepadaku. 
“Okay, aku mikir dulu. Nahhh…ada nih! Dengerin baik-baik ya. 
“kataku dengan serius. 
“ya aku dengerin, emangnya apa?” Tanya Raisha. 
“Kamu tau nggak persamaan kamu sama I-podku?” Tanyaku. 
“emangnya apa persamaannya?” Tanya Raisha penasaran. 
“I-podku ini sudah lama aku bawa kemana-mana dan aku nggak bisa hidup tanpa dengerin musik, sama seperti kamu yang selalu aku pikirin kemanapun aku pergi karena kamu itu hidupku”. Jawabku dengan nada puitisasi.
“wahh…kereenn…kereenn…kamu menang deh, Mel.” Kata Raisha sambil bertepuk tangan. Tiba-tiba Vita yang baru datang langsung bernyanyi untuk Raisha. “Sha, ini lagu buat kamu”

Hidupku sangat sempurna
menikmati hidup yang aku punya
berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy
 

THE END