Cute Rocking Baby Monkey

Minggu, 07 Februari 2016

Langit Senja

Cerita ini juga di post di Wattpad id : audirhy

Part 1
Jakarta – Abu Dhabi

BANDARA Soekarno-Hatta siang itu tampak ramai. Seorang gadis bermata sipit tampak berlarian menerobos kerumunan, menuju rombongan yang dengan mudah dikenalinya Karena sosok pria berperawakan ramah itu ada di sana. Koper besar berwarna merah dan sebuah tas jinjing berukuran sedang berwarna senada yang memenuhi kedua tangannya, serta tas ransel berwarna hitam yang tersampir di bahunya tampak tak memberatkannya sama sekali. Dalam sekejap mata , ia sudah sampai di tengah-tengah rombongan yang akan bersamanya menjelajah Eropa selama 13 hari ke depan.
"Maaf, aku terlambat paman! Apakah kalian sudah menunggu lama?" tanya gadis itu dengan nafas tersengal. Ia menatap paman Ryan sahabat karib mamanya, sekaligus tour guide mereka dengan rasa bersalah. Mata sipitnya bergerak lincah menatap ke sekeliling. Sejenak, tatapannya berhenti pada sosok tinggi bermantel merah maroon yang berdiri tidak jauh darinya. Lelaki itu tampak mencolok karena posturnya yang menjulang. Sebuah syal bewarna hitam melingkar di lehernya dengan sempurna.
"Tenang saja, Senja. Kita belum terlambat, kok"
Suara paman Ryan mengalihkan perhatian gadis bernama Senja dari laki-laki bermantel merah maroon tersebut. Ia kembali menatap pria ramah di hadapannya seraya tersenyum lega.
"Syurkurlah. Aku pikir aku sudah terlambat. Ah, Bibi juga ikut rupanya?" tanya Senja saat dirinya melihat Tante Ilya istri Paman Ryan tengah berbincang hangat dengan salah satu anggota rombongan.
"Iya. Jalan-jalan, sekalian bulan madu lagi," canda Paman Ryan seraya tertawa. "Nah, mari Paman perkenalkan kamu pada anggota rombongan tur kali ini. Tadi yang lain sudah berkenalan sebelum kamu tiba," ujar Paman Ryan.
Senja mengangguk antusias
"Ini Kakek Haru dan Nenek Yasmin." Paman Ryan menoleh pada pasangan suami istri yang meskipun sudah berumur separuh abad, tetap terlihat kompak dan mesra, Selain Kakek Haru dan Nenek Yasmin, ada dua pasangan muda lain yang tak kalah mesranya, juga tiga kakak beradik yang sedang liburan kuliah. Masing-masing dari mereka adalah Satria dan Alya, Indra dan Calista, Nissa, Khila, dan Ve. Ada pula Paman Seya, yang sedang berlibur bersama putra bungsunya Viko, yang berumur 12 tahun. Terakhir, Paman Ryan menunjuk lelaki tinggi bermantel merah maroon yang sempat menarik Senja.
"Nah, kalau yang itu namanya Langit."
Mendengar namanya disebut, Langit menoleh sejenak menatap Paman Ryan. Kemudian ia beralih pada Senja. Hanya sejenak sepasang mata elangnya menatap gadis berkulit putih dan berkulit putih itu, lalu ia kembali sibuk dengan iPod di tangannya.
"Jadi anggota tur kali ini berjumlah 15 orang, termasuk saya dan Tante Ilya," terang Paman Ryan.
Sesaat setelah acara perkenalan itu, Paman Ryan segera mengurus bagasi rombongannya. Ia kemudian menyerahkan kembali passport, membagikan visa dan tiket boarding pass, lalu mengajak para peserta tur masuk ke ruang tunggu.
"Para rombongan yang terhormat, karena anggota tur kita sudah lengkap, saya dengan resmi menyatakan perjalanan Eropa selama 13 hari bersama Ryan Jaya Tour dimulai! Enjoy the journey!" seru Paman Ryan lantang, membuat seluruh peserta rombongan bersorak dan bertepuk tangan, tak terkecuali Senja.
Sejenak, ia menoleh menatap lelaki bernama Langit yang tampak tak menunjukkan ekspresi apa pun. Jangankan bersorak, tersenyum saja tidak. Senja mengernyit. Apa jadinya perjalanan 13 hari keliling Eropa nanti jika ia harus satu rombongan dengan lelaki dingin itu?
DAN perjalanan pun dimulai. Harry potter and the Prisoner of Azkaban
Senja tersenyum puas saat melangkah memasuki pesawat. Liburan keliling Eropa ini memang sudah diimpikan Senja sejak lama. Namun, tur yang diadakan Paman Ryan selalu bertepatan dengan liburan Natal, dan tentu saja, tidak mudah untuk mendapatkan cuti di saat semua manusia berbondonng-bondong hendak liburan juga. Sykurlah, atasan Senja akhirnya memberikan izin cuti kepada Senja, dengan alasan bahwa sang kepala redaksi belum pernah sekalipun mengambil cuti sepanjang tahun ini. Hal itu memang sudah di rencanakan Senja untuk menarik simpati Pak Johanes, dan Senja berhasil!
Karenanya, ketika tak seorang pun yang berniat menemaninya melewati liburan Natal dan tahun baru itu, Senja tetap bertekad untuk berangkat walaupun harus sendirian. Toh, ada Paman Ryan dan Tante Ilya yang dikenalnya. Tentu saja, mengenal orang-orang baru juga tak kalah mengasyikkan, bukan?
Langkah Senja terhenti saat menemukan kursi yang di carinya. Senja menengadah dan mengintip ke bagasi di atas tempat duduk berderet tiga itu, berniat untuk menyimpan tas jinjing yang dibawanya masuk ke pesawat. Ah, ia tidak cukup tinggi.
Setengah berjinjijt, Senja mengangkat tas merahnya dan mendorong tas itu dengan kuat, hingga dirinya kehilangan kesimbangan saat tas tersebut berhasil masuk ke dalam bagasi kabin. Tubuh mungil gadis itu terdorong ke belakang dan tanpa sengaja menabrak seseorang di belakangnya.
"Ma... maafkan aku..." Senja menoleh menatap orang yang tak sengaja ditabrakanya. Matanya melebar kala mengenali sosok itu. Langit. "Eh, Lang. Sori, aku nggak..."
"Cepat duduk. Kamu nggak berniat bikin macet di dalam pesawat, kan?" potong Langit ketus, membuat Senja mengurungkan niat untuk melanjutkan ucapannya. Di belakang mereka tampak bebrapa orang tengah mengantre untuk lewat.
Buru-buru, Senja beringsut duduk. Hatinya seketika ciut saaat menyadari Langit memasuki deretan kursi yang sama dengannya. Oh, tidak! Perjalanan Menuju Abu Dhabi memakan waktu tujuh jam lebih. Dan ia harus menempuh perjalanan panjang itu dengan duduk di sebelah lelaki menyebalkan bernama Langit? Sungguh awal yang baik.
Niatnya tulus. Sungguh. Ia tadi menyapa Langit karena satu alasana saja: Langit akan menjadi teman perjalanannya selama tiga belas hari ke depan.Tapi dijawab seketus itu, Senja sama sekali tidak menyangka. Apa lelaki di sampingnya ini antisosial, atau bawaan dari lahir saja sudah ketus begitu? Senja menghela nafas panjang karena tak juga menemukan jawabannya.
Sudah satu jam ia duduk di dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju Abu Dhabi - transit sebelum akhirnya menuju kota tujuan Roma, tapi ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Kesalahan terbesarnya adalah, ia lupa membawa buku bacaan yang sudah di simpannya di meja rias pagi tadi. Apa ia menluis saja? Ia berjanji pada Pak Johanes bahwa ia akan memberikan liputan ekskulusif selama perjalanannya ke Eropa untuk majalah Hi, Girls!. Janji yang memberatkan, ia tahu. Sayangnya, karena terlalu excited dengan persetujuan cuti itu, Senja tak pikir panjang lagi waktu menawarkannya.
Senja membuka tas ranselnya dan berusaha menemukan buku memo yang tenggelam di antara kamera, kacamata, sekotak coklat, dan barang-barang lain yang sebetulnya tidak terlalu penting tapi selalu lupa disimpan atau dibuangnya Salah satunya bon belanjaan buku yang sudah menumpuk di dalam tasnya. Saat sedang sibuk mengaduk-aduk isi tasnya, mendadak sebuah suara menegurnya.
"Kamu bisa tenang sedikit nggak, sih? Berisik, tahu nggak?" ujar pemilik suara yang kini menatapnya tajam.
Senja menelan ludah. Apa sih, salah dan dosanya sampai-sampai harus duduk di sebelah lelaki aneh bin ketus ini? Padahal kan, ia hanya berniat ,mencari buku memonya. Lagi pula, hei, lihat itu di telinganya! Earphone terpasang begitu sempurna mnutupi kedua telinga Langit. Masa iya, suara Senja yang sedari tadi mengaduk-aduk isi tasnya untuk menemukan si memo dapat mengalahkan suara musik nan merdu dari iPod lelaki itu?
Menyadari tatapan protes Senja, Langit buru-buru melepas earphone-nya dan berkata, "Volumenya hanya satu, cukup pelan untuk mendengar suara berisik yang kamu ciptakan barusan. Belum lagi kamu sejak tadi tampak gelisah dan nggak bisa duduk manis. Memengganggu kosentrasiku," ujarnya sembari menunjuk notes yang tengah di pakainya untuk menulis. "Kenapa sih, kamu nggak tidur aja?"
Senja mencibir pelan saat mendengar omelan yang keluar dari mulut Langit. Memangnya apa sih yang tengah di kerjakannya sampai perlu kosentrasi segala? Senja memberanikan diri untuk melirik isi notes di tangan Langit. Matanya melebar saat menemukan notasi-notasi balok di sana.
"Kamu menulis lagu?" Senja tak dapat menyembunyikan ketertarikannya begitu melihat isi notes di tangan Langit.
Menyadari mata Senja yang awas, Langit buru-buru membalik notesnya dan menatap Senja dengan tatapan itu-bukan-urusanmu.
Senja cemberut. "Kita pernah bertemu sebelum ini, ya?" kalau iya, aku pasti pernah berbuat kesalahan waktu itu sampai kamu seketus ini padaku, tambah Senja dalam hati. Pertanyaan Senja rupanya berhasil memancing Langit untuk menoleh ke arahnya.
Lelaki tu tertawa sinis. “Jangan coba-coba merayuku dengan cara kuno seperti itu.”
Senja membelalak. Idih! Selain menyebalkan, lelaki bernama Langit ini ternyata juga ge-er-an! “Lebih baik aku tidur daripada melanjutkan obrolan nggak jelas dengan tukang ke-ge-er-an seperti kamu,” rutuk Senja sebal, sembari menutup tas ranselnya. Ia sudah kehilangan selera untuk menulis artikel sekarang.
“Bagus, lebih baik kamu tidur saja daripada menggangguku dengan rayuan kunomu itu.”
“Aku nggak sedang merayumu, tahu!” balas Senja sebal. Gadis itu menghentakkan kakinya dengan gemas, lalu buru-buru memejamkan mata. Ternyata, di dunia ini lelaki ke-ge-er-an itu masih ada!
Membiarkan gadis berisik di sampingnya ini tidur pun bukan pilihan yang tepat, rupanya. Langit mendesah sembari mendorong kepala Senja yang terkulai di bahunya untuk ke lima. Diliriknya Paman Seya yang juga tertidur pulas di sisinya, namun lelaki paruh baya itu tampak nyaman dengan posisinya yng bersandar pada bantalan kursi pesawat.
Mengapa gadis ini tidak dapat tidur dengan cara yang lebih normal, sih? Langit menghela napas panjang saat kepala yang sudah didorong menjauh itu kembali terjatuh di bahunya. Ah, sudahlah. Percuma saja ia terus mencoba.
“Wah, wah. Senja tampaknya teridur pulas, Lang?”
Suara Paman Ryan, sekaligus wajahnya yang menyembul dari bangku depan dengan tatapan menggoda, membuat Langit menatapnya setengah frustasi.
“Ia cantik, cocok dengan keponakan Paman yang tampan ini,” goda Paman Ryan semakin menjadi-jadi
Langit menghela napas panjang untuk kali sekian. “Paman, tolong hentikan lelucon konyolmu ini segera.”
“Senja gadis yang baik. Ia putri sahabat karib Paman. Kalian cocok, kok. Kristal toh sudah menikah, Lang. Kamu nggak bermaksud nungguin dia cerai, kan?” ujar Paman Ryan, yang dalam sekejap mata berhasil membawa kembali kepingan masa lalu Langit saat mendengar nama itu disebut.
“Aku nggak mengharapkan Kristal kembali, Paman. Nggak pernah. Lagi pula, semua sudah usai setahun yang lalu. Tapi aku juga nggak mengharapkan orang yang menggantikan Kristal adalah gadis yang merepotkan seperti...” Langit berjengit, tampak berpikir sesaat. “Siapa pun namanya...” Ia akhirnya menyerah karena tidak berhasil mengingat nama gadis di sampingnya itu.
“Senja. Namanya Senja.” Paman Ryan mencoba menolongnya mengigat ingat.
“Baiklah, siapa pun dia, aku nggak pernah berharap orang yang akan menggantikan Kristal adalah dia. Jadi, jangan teruskan ide konyol ini, Paman. Aku tahu kursi kami bersebelahan bukan karena kebetulan. Belum puaskah Paman mengganguku dengan ide konyol itu sepanjang minggu ini?” tanya Langit jenggah.
Melihat Paman Ryan buru-buru mengangkat bahu dan berputar kembali ke posisi duduknya yang semula membuat Langit semakin tak berdaya di buatnya. Entah apa yang akan terjadi selama tiga belas hari ke depan dengan Paman Ryan dan gadis bernama Senja di dalamnya.
Langit benar-benar penasaran.
“EH, bangun!”
Senja tersentak kala seseorang menepuk pipinya dengan kuat. Sebelum kesadarannya pulih, lelaki yang baru dikenalnya beberapa jam lalu itu telah mendorong bahunya dengan kuat.
Senja mengerjap. “Astaga! Apa aku ketiduran?” tanya Senja yang masih diselimuti kantuk itu membuat mata Langit melebar sekeitka.
“Ketiduran, katamu? Kamu sudah tidur selama 5 jam lebih!” Langit memijat bahunya yang terasa kaku.
Dahi Senja berkerut bingung saat menatap ekspresi Langit yang menyebalkan. Kantuknya lenyap tak tersisa seketika. “Kenapa kamu mengomel karena aku tidur? Bukannya tadi kamu setuju aku tidur supaya aku nggak ribut?” Senja sengaja memberi penekanan pada kata ribut, karena masih tidak terima acara bongkar tasnya dianggap bikin ribut. Kemudian, karena sadar Langit masih memijti bahunya, Senja bertanya, “Dan apa yang terjadi dengan bahumu selama aku tidur?”
Langit menghela napas panjang saat mendengar pertanyaan Senja. Ia menatap Senja dengan tatapan sungguh-kau-tak-tahu-ini-karena-apa, membuat Senja semakin kebingungan.
“Nggak usah dibahas. Buruan turun, kita sudah sampai di Abu Dhabi,” ujar Langit pada akhirnya. Ia melangkah ke luar menuju lorong kabin pesawat, kemudian mencegat beberapa penumpang di belakangnya, memberi ruang agar Senja dapat keluar. “Tasmu biar aku yang ambil dan bawa keluar. Supaya nggak macet lagi!” ujar Langit yang membuat Senja seketika cemberut.
“Biar aku bawa sendiri!” umpat Senja sembari merebut tas jinjingnya yang baru saja diturunkan Langit. Gadis itu melangkah turun dari pesawat dengan perasaan sebal bercampur heran. Sebenarnya apa sih salahnya pada Langit? Kenal saja tidak, mengapa Langit bersikap sebegitu menyebalkan padanya?
Luka yang kau simpan, sudahlah
Mungkin ini saat yang tepat untuk mengemasi semua.

Langit mengisi kata demi kata di notesnya sembari menunggu penerbangan berikut menuju Roma di salah satu restoran fast food burger yang terletak di lantai dua Abu Dhabi International Airport. Ia melirik jam tangannya. Pukul 9 malam. Di Indonesia, sekarang sudah pukul 12 malam. Pantas saja ia mulai merasa ngantuk. Langit menyesap kopinya perlahan. Penerbangan menuju Roma masih lima jam lagi. Mungkin ia akan menghabiskan waktunya di sini, sebelum nanti berkumpul bersama para rombongan di depan gerbang Duty Free yang terletak di lantai 1.
Langit mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling. Suasana bandara malam tampak ramai. Counter-counter makanan dan minuman tampak disesaki oleh pengunjung dari berbagai negara. Sepertinya bandara ini memang tak pernah sepi.
Setelah puas mengamati sekitarnya, Langit kembali menekuni lirik lagu yang baru ditulisnya dan tertegun. Tanpa sadar ia menarik napas panjang. Mungkinkah ia dapat mengemasi semua kenangan indah yang memberi luka?
“Di sini rupanya kamu.”
Sebuah suara menarik Langit keluar dari lamunannya. Tangan gadis itu terulur, menyodorkan iPod yang baru di sadari Langit tidak ada di saku mantelnya. Langit menengadah, menemukan Senja yang tengah menatapya cemberut.
“Paman Ryan yang menyuruhku memberikannya padamu kalau-kalau kita bertemu. Ia bilang kamu pasti ada di food court, karena kamu nggak hobi belanja. Paman Ryan masih ada di Duty Free, berbelanja dengan Tante Ilya di counter jam tangan. Mereka tampak begitu antusia, sehingga aku nggak tega untuk menolak permintaan Paman Ryan yang baik hati itu meskipun aku malas berurusan denganmu,” terang Senja panjang lebar.
Langit menghela napas panjang dan meraih iPod miliknya dari tangan Senja. Ia teringat pertemuannya dengan Paman Ryan di toilet tadi yang membuat menitipkan iPod-nya.
“Seharusnya kamu nggak perlu repot-repot mengantarkannya. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti.”
Senja mendengus sebal saat mendengar jawaban Langit. Ia memang tidak sengaja bertemu Langit di sini. Tapi ada di sini dan berbaik hati menyerahkan barang milik lelaki itu yang ketinggalan, bukankah seharusnya Langit berterimakasih dan bukan bersikap sebaliknya?
“Ada apa? Dari tampangmu, kau terlihat kecewa. Jangan bilang aku harus bertanggung jawab sudah mencuri waktu belanjamu karena iPod ini. Aku nggak memintamu untuk mencariku,” cetus Langit saat melihat Senja masih saja cemberut dan membisu di depannya.
Kalau saja Senja tidak ingat betapa mahalnya barang-barang di luar negeri, ia pasti sudah meraih gelas kopi di meja Langit dan menyiramkannya di wajah lelaki itu.
Senja memutuskan berbalik pergi. Malas menanggapi lelaki aneh yang bersikap ketus padanya tanpa alasan yang jelas. Ia tidak perlu menjelaskan pada Langit bahwa kehilangan satu-dua jam waktu berbelanja tidak ankan membunuhnya. Ia juga tidak perlu takut lagi Langit akan mengira dirinya sengaja berkeliling untuk mencari dirinya. Ia memang sudah selesai berkeliling di Duty Free. Pakaian, tas, jam tangan, dan counter-counter bermerek lainnya tidak berhasil menarik minatnya. Lain halnya bila menemukkan toko buku. Mungkin ia akan betah berjam-jam berada di dalam sana.
Perjalanan tiga belas hari ini memang hendak dihabiskannya untuk menikamati panorama dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah,bukan untuk menghabiskan uang dengan shopping. Mungkin ia hanya akan membelikan oleh-oleh untuk orang kantor.
Dengan perasaan dongkol, Senja bergegas turun ke lantai satu. Ia sudah kehilangan selera untuk makan.

Pesawat mereka akhirnya berangkat menuju Roma pukul 02.30 pagi. Lagi-lagi, Senja duduk satu deret dengan Paman Seya dan Langit. Dalam hati, Senja berjanji selama berada di bus perjalanan nanti, ia akan mencari posisi duduk sejauh mungkin dengan Langit. Maaf saja jika disangka naksir atau coba-coba pedkate! Hah!
Senja mengeluarkan notes dari dalam tasnya dan memulai menulis artikel perjalanannya. Saat tengah asyik menulis, ia menyadari tatapan Langit tengah tertuju padanya.
“Mau apa?” tanya Senja ketus. Ia menjauhkan notesnya, sama seperti Langit yang menyembunyikan notes berisi not baloknya. Satu sama!
“Aku nggak berniat mengintip tulisanmu. Sama sekali nggak penting. Tapi arah pandanganku terbatas.” Langit mencoba menjelaskan.
“Nggak penting, menurutmu? Oh, nggak apa. Toh kamu bukan pembaca majalah Hi, Girls!,?” rutuk Senja sebal.
“Kamu menulis untuk majalah Hi Girls!?” Langit mendelik Senja tak percaya. “Semoga majalah itu bersedia menerima tulisanmu,” sindir Langit tajam. Meski tidak pernah membaca majalah Hi, girls!, Langit sering sekali melihat majalah-majalah itu berserakan di ruang tamu atau kamar adiknya, Lea. Dari Lea pula Langit tahu, bahwa majalah Hi, Girls! Cukup populer di kalangan anak remaja. Lea yang masih duduk di bangku 2 SMA itu juga mengoleksi setumpuk komik dan novel. Sifat Lea yang sangat gemar membaca itu berimbas pada Langit. Ia selalu memaksa Langit memberi pendapat tentang sebuah artikel yang tengah dibacanya, atau menebak ending dalam sebuah novel. Di tas Langit sekarang bahkan ada satu buku tebal yang dijejalkan Lea diam-diam dengan sebuah catatan pesan di atasnya: “Teman di saat suntuk selama berada di pesawat”
“Bagaimana menurutmu?”
Alih-alih marah, Langit terheran heran saat melihat Senja tersenyum lebar atas sindirannya. Dari cara gadis itu menatapnya, Lagit tahu persis bahwa Senja tengah menyimpan sebuah rahasia.

“Apa kamu freelancer di sana?” tanya Langit, yang tidak dapat lagi menutupi rasa penasarannya. Yang ditanya tidak menjawab. Hanya mengangkat bahu sambil tersenyum senang di sampingnya. Langit buru-buru membuang muka dan pura-pura sibuk dengan notesnya. Dalam hati ia berdoa, semoga mereka segera mendarat di kota Roma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar