Part 1
Jakarta – Abu Dhabi
BANDARA Soekarno-Hatta
siang itu tampak ramai. Seorang gadis bermata sipit tampak berlarian menerobos
kerumunan, menuju rombongan yang dengan mudah dikenalinya Karena sosok pria
berperawakan ramah itu ada di sana. Koper besar berwarna merah dan sebuah tas
jinjing berukuran sedang berwarna senada yang memenuhi kedua tangannya, serta
tas ransel berwarna hitam yang tersampir di bahunya tampak tak memberatkannya
sama sekali. Dalam sekejap mata , ia sudah sampai di tengah-tengah rombongan
yang akan bersamanya menjelajah Eropa selama 13 hari ke depan.
"Maaf, aku
terlambat paman! Apakah kalian sudah menunggu lama?" tanya gadis itu
dengan nafas tersengal. Ia menatap paman Ryan sahabat karib mamanya, sekaligus tour guide mereka dengan rasa bersalah. Mata
sipitnya bergerak lincah menatap ke sekeliling. Sejenak, tatapannya berhenti
pada sosok tinggi bermantel merah maroon yang berdiri tidak jauh darinya.
Lelaki itu tampak mencolok karena posturnya yang menjulang. Sebuah syal bewarna
hitam melingkar di lehernya dengan sempurna.
"Tenang saja,
Senja. Kita belum terlambat, kok"
Suara paman Ryan
mengalihkan perhatian gadis bernama Senja dari laki-laki bermantel merah maroon tersebut. Ia kembali menatap pria
ramah di hadapannya seraya tersenyum lega.
"Syurkurlah. Aku
pikir aku sudah terlambat. Ah, Bibi juga ikut rupanya?" tanya Senja saat
dirinya melihat Tante Ilya istri Paman Ryan tengah berbincang hangat dengan
salah satu anggota rombongan.
"Iya. Jalan-jalan,
sekalian bulan madu lagi," canda Paman Ryan seraya tertawa. "Nah,
mari Paman perkenalkan kamu pada anggota rombongan tur kali ini. Tadi yang lain
sudah berkenalan sebelum kamu tiba," ujar Paman Ryan.
Senja mengangguk
antusias
"Ini Kakek Haru
dan Nenek Yasmin." Paman Ryan menoleh pada pasangan suami istri yang
meskipun sudah berumur separuh abad, tetap terlihat kompak dan mesra, Selain
Kakek Haru dan Nenek Yasmin, ada dua pasangan muda lain yang tak kalah
mesranya, juga tiga kakak beradik yang sedang liburan kuliah. Masing-masing
dari mereka adalah Satria dan Alya, Indra dan Calista, Nissa, Khila, dan Ve.
Ada pula Paman Seya, yang sedang berlibur bersama putra bungsunya Viko, yang
berumur 12 tahun. Terakhir, Paman Ryan menunjuk lelaki tinggi bermantel merah maroon yang sempat menarik Senja.
"Nah, kalau yang
itu namanya Langit."
Mendengar namanya
disebut, Langit menoleh sejenak menatap Paman Ryan. Kemudian ia beralih pada
Senja. Hanya sejenak sepasang mata elangnya menatap gadis berkulit putih dan
berkulit putih itu, lalu ia kembali sibuk dengan iPod di tangannya.
"Jadi anggota tur
kali ini berjumlah 15 orang, termasuk saya dan Tante Ilya," terang Paman
Ryan.
Sesaat setelah acara
perkenalan itu, Paman Ryan segera mengurus bagasi rombongannya. Ia kemudian
menyerahkan kembali passport,
membagikan visa dan tiket boarding
pass, lalu mengajak para peserta tur masuk ke ruang tunggu.
"Para rombongan
yang terhormat, karena anggota tur kita sudah lengkap, saya dengan resmi
menyatakan perjalanan Eropa selama 13 hari bersama Ryan Jaya Tour dimulai! Enjoy the journey!" seru
Paman Ryan lantang, membuat seluruh peserta rombongan bersorak dan bertepuk
tangan, tak terkecuali Senja.
Sejenak, ia menoleh
menatap lelaki bernama Langit yang tampak tak menunjukkan ekspresi apa pun.
Jangankan bersorak, tersenyum saja tidak. Senja mengernyit. Apa jadinya
perjalanan 13 hari keliling Eropa nanti jika ia harus satu rombongan dengan
lelaki dingin itu?
DAN perjalanan pun
dimulai. Harry potter and the Prisoner of Azkaban
Senja tersenyum puas
saat melangkah memasuki pesawat. Liburan keliling Eropa ini memang sudah
diimpikan Senja sejak lama. Namun, tur yang diadakan Paman Ryan selalu
bertepatan dengan liburan Natal, dan tentu saja, tidak mudah untuk mendapatkan
cuti di saat semua manusia berbondonng-bondong hendak liburan juga. Sykurlah,
atasan Senja akhirnya memberikan izin cuti kepada Senja, dengan alasan bahwa
sang kepala redaksi belum pernah sekalipun mengambil cuti sepanjang tahun ini.
Hal itu memang sudah di rencanakan Senja untuk menarik simpati Pak Johanes, dan
Senja berhasil!
Karenanya, ketika tak
seorang pun yang berniat menemaninya melewati liburan Natal dan tahun baru itu,
Senja tetap bertekad untuk berangkat walaupun harus sendirian. Toh, ada Paman
Ryan dan Tante Ilya yang dikenalnya. Tentu saja, mengenal orang-orang baru juga
tak kalah mengasyikkan, bukan?
Langkah Senja terhenti
saat menemukan kursi yang di carinya. Senja menengadah dan mengintip ke bagasi
di atas tempat duduk berderet tiga itu, berniat untuk menyimpan tas jinjing
yang dibawanya masuk ke pesawat. Ah,
ia tidak cukup tinggi.
Setengah berjinjijt,
Senja mengangkat tas merahnya dan mendorong tas itu dengan kuat, hingga dirinya
kehilangan kesimbangan saat tas tersebut berhasil masuk ke dalam bagasi kabin. Tubuh
mungil gadis itu terdorong ke belakang dan tanpa sengaja menabrak seseorang di
belakangnya.
"Ma... maafkan
aku..." Senja menoleh menatap orang yang tak sengaja ditabrakanya. Matanya
melebar kala mengenali sosok itu. Langit. "Eh, Lang. Sori, aku nggak..."
"Cepat duduk. Kamu
nggak berniat bikin macet di dalam pesawat, kan?" potong Langit ketus,
membuat Senja mengurungkan niat untuk melanjutkan ucapannya. Di belakang mereka
tampak bebrapa orang tengah mengantre untuk lewat.
Buru-buru, Senja
beringsut duduk. Hatinya seketika ciut saaat menyadari Langit memasuki deretan
kursi yang sama dengannya. Oh,
tidak! Perjalanan Menuju Abu Dhabi memakan waktu tujuh jam lebih. Dan ia
harus menempuh perjalanan panjang itu dengan duduk di sebelah lelaki
menyebalkan bernama Langit? Sungguh awal yang baik.
Niatnya tulus. Sungguh.
Ia tadi menyapa Langit karena satu alasana saja: Langit akan menjadi teman
perjalanannya selama tiga belas hari ke depan.Tapi dijawab seketus itu, Senja
sama sekali tidak menyangka. Apa lelaki di sampingnya ini antisosial, atau
bawaan dari lahir saja sudah ketus begitu? Senja menghela nafas panjang karena
tak juga menemukan jawabannya.
Sudah satu jam ia duduk
di dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju Abu Dhabi - transit sebelum
akhirnya menuju kota tujuan Roma, tapi ia sama sekali tidak tahu harus berbuat
apa. Kesalahan terbesarnya adalah, ia lupa membawa buku bacaan yang sudah di
simpannya di meja rias pagi tadi. Apa ia menluis saja? Ia berjanji pada Pak
Johanes bahwa ia akan memberikan liputan ekskulusif selama perjalanannya ke
Eropa untuk majalah Hi, Girls!.
Janji yang memberatkan, ia tahu. Sayangnya, karena terlalu excited dengan persetujuan cuti itu, Senja tak
pikir panjang lagi waktu menawarkannya.
Senja membuka tas
ranselnya dan berusaha menemukan buku memo yang tenggelam di antara kamera,
kacamata, sekotak coklat, dan barang-barang lain yang sebetulnya tidak terlalu
penting tapi selalu lupa disimpan atau dibuangnya Salah satunya bon belanjaan
buku yang sudah menumpuk di dalam tasnya. Saat sedang sibuk mengaduk-aduk isi
tasnya, mendadak sebuah suara menegurnya.
"Kamu bisa tenang
sedikit nggak, sih? Berisik, tahu nggak?" ujar pemilik suara yang kini
menatapnya tajam.
Senja menelan ludah.
Apa sih, salah dan dosanya sampai-sampai harus duduk di sebelah lelaki aneh bin
ketus ini? Padahal kan, ia hanya berniat ,mencari buku memonya. Lagi pula, hei,
lihat itu di telinganya! Earphone terpasang begitu sempurna mnutupi
kedua telinga Langit. Masa iya, suara Senja yang sedari tadi mengaduk-aduk isi
tasnya untuk menemukan si memo dapat mengalahkan suara musik nan merdu dari
iPod lelaki itu?
Menyadari tatapan
protes Senja, Langit buru-buru melepas earphone-nya
dan berkata, "Volumenya hanya satu, cukup pelan untuk mendengar suara
berisik yang kamu ciptakan barusan. Belum lagi kamu sejak tadi tampak gelisah
dan nggak bisa duduk manis. Memengganggu kosentrasiku," ujarnya sembari
menunjuk notes yang tengah di pakainya untuk menulis. "Kenapa sih, kamu
nggak tidur aja?"
Senja mencibir pelan
saat mendengar omelan yang keluar dari mulut Langit. Memangnya apa sih yang
tengah di kerjakannya sampai perlu kosentrasi segala? Senja memberanikan diri
untuk melirik isi notes di tangan Langit. Matanya melebar saat menemukan
notasi-notasi balok di sana.
"Kamu menulis
lagu?" Senja tak dapat menyembunyikan ketertarikannya begitu melihat isi
notes di tangan Langit.
Menyadari mata Senja
yang awas, Langit buru-buru membalik notesnya dan menatap Senja dengan tatapan
itu-bukan-urusanmu.
Senja cemberut.
"Kita pernah bertemu sebelum ini, ya?" kalau iya, aku pasti pernah berbuat
kesalahan waktu itu sampai kamu seketus ini padaku, tambah Senja dalam hati.
Pertanyaan Senja rupanya berhasil memancing Langit untuk menoleh ke arahnya.
Lelaki tu tertawa
sinis. “Jangan coba-coba merayuku dengan cara kuno seperti itu.”
Senja membelalak. Idih! Selain menyebalkan, lelaki bernama
Langit ini ternyata juga ge-er-an! “Lebih baik aku tidur daripada
melanjutkan obrolan nggak jelas dengan tukang ke-ge-er-an seperti kamu,” rutuk
Senja sebal, sembari menutup tas ranselnya. Ia sudah kehilangan selera untuk
menulis artikel sekarang.
“Bagus, lebih baik kamu
tidur saja daripada menggangguku dengan rayuan kunomu itu.”
“Aku nggak sedang
merayumu, tahu!” balas Senja sebal. Gadis itu menghentakkan kakinya dengan
gemas, lalu buru-buru memejamkan mata. Ternyata, di dunia ini lelaki
ke-ge-er-an itu masih ada!
Membiarkan gadis berisik
di sampingnya ini tidur pun bukan pilihan yang tepat, rupanya. Langit mendesah
sembari mendorong kepala Senja yang terkulai di bahunya untuk ke lima.
Diliriknya Paman Seya yang juga tertidur pulas di sisinya, namun lelaki paruh
baya itu tampak nyaman dengan posisinya yng bersandar pada bantalan kursi
pesawat.
Mengapa gadis ini tidak dapat tidur dengan cara yang lebih
normal, sih?
Langit menghela napas panjang saat kepala yang sudah didorong menjauh itu
kembali terjatuh di bahunya. Ah, sudahlah.
Percuma saja ia terus mencoba.
“Wah, wah. Senja
tampaknya teridur pulas, Lang?”
Suara Paman Ryan,
sekaligus wajahnya yang menyembul dari bangku depan dengan tatapan menggoda,
membuat Langit menatapnya setengah frustasi.
“Ia cantik, cocok
dengan keponakan Paman yang tampan ini,” goda Paman Ryan semakin menjadi-jadi
Langit menghela napas
panjang untuk kali sekian. “Paman, tolong hentikan lelucon konyolmu ini
segera.”
“Senja gadis yang baik.
Ia putri sahabat karib Paman. Kalian cocok, kok. Kristal toh sudah menikah,
Lang. Kamu nggak bermaksud nungguin dia cerai, kan?” ujar Paman Ryan, yang
dalam sekejap mata berhasil membawa kembali kepingan masa lalu Langit saat
mendengar nama itu disebut.
“Aku nggak mengharapkan
Kristal kembali, Paman. Nggak pernah. Lagi pula, semua sudah usai setahun yang
lalu. Tapi aku juga nggak mengharapkan orang yang menggantikan Kristal adalah
gadis yang merepotkan seperti...” Langit berjengit, tampak berpikir sesaat.
“Siapa pun namanya...” Ia akhirnya menyerah karena tidak berhasil mengingat
nama gadis di sampingnya itu.
“Senja. Namanya Senja.”
Paman Ryan mencoba menolongnya mengigat ingat.
“Baiklah, siapa pun
dia, aku nggak pernah berharap orang yang akan menggantikan Kristal adalah dia.
Jadi, jangan teruskan ide konyol ini, Paman. Aku tahu kursi kami bersebelahan
bukan karena kebetulan. Belum puaskah Paman mengganguku dengan ide konyol itu sepanjang
minggu ini?” tanya Langit jenggah.
Melihat Paman Ryan
buru-buru mengangkat bahu dan berputar kembali ke posisi duduknya yang semula
membuat Langit semakin tak berdaya di buatnya. Entah apa yang akan terjadi
selama tiga belas hari ke depan dengan Paman Ryan dan gadis bernama Senja di
dalamnya.
Langit benar-benar
penasaran.
“EH, bangun!”
Senja tersentak kala
seseorang menepuk pipinya dengan kuat. Sebelum kesadarannya pulih, lelaki yang
baru dikenalnya beberapa jam lalu itu telah mendorong bahunya dengan kuat.
Senja mengerjap.
“Astaga! Apa aku ketiduran?” tanya Senja yang masih diselimuti kantuk itu
membuat mata Langit melebar sekeitka.
“Ketiduran, katamu?
Kamu sudah tidur selama 5 jam lebih!” Langit memijat bahunya yang terasa kaku.
Dahi Senja berkerut
bingung saat menatap ekspresi Langit yang menyebalkan. Kantuknya lenyap tak
tersisa seketika. “Kenapa kamu mengomel karena aku tidur? Bukannya tadi kamu
setuju aku tidur supaya aku nggak ribut?” Senja sengaja memberi penekanan pada
kata ribut, karena masih tidak terima
acara bongkar tasnya dianggap bikin ribut. Kemudian, karena sadar Langit masih
memijti bahunya, Senja bertanya, “Dan apa yang terjadi dengan bahumu selama aku
tidur?”
Langit menghela napas
panjang saat mendengar pertanyaan Senja. Ia menatap Senja dengan tatapan
sungguh-kau-tak-tahu-ini-karena-apa, membuat Senja semakin kebingungan.
“Nggak usah dibahas.
Buruan turun, kita sudah sampai di Abu Dhabi,” ujar Langit pada akhirnya. Ia
melangkah ke luar menuju lorong kabin pesawat, kemudian mencegat beberapa
penumpang di belakangnya, memberi ruang agar Senja dapat keluar. “Tasmu biar
aku yang ambil dan bawa keluar. Supaya nggak macet lagi!” ujar Langit yang
membuat Senja seketika cemberut.
“Biar aku bawa
sendiri!” umpat Senja sembari merebut tas jinjingnya yang baru saja diturunkan
Langit. Gadis itu melangkah turun dari pesawat dengan perasaan sebal bercampur
heran. Sebenarnya apa sih salahnya pada Langit? Kenal saja tidak, mengapa
Langit bersikap sebegitu menyebalkan padanya?
Luka yang kau simpan, sudahlah
Mungkin ini saat yang
tepat untuk mengemasi semua.
Langit mengisi kata
demi kata di notesnya sembari menunggu penerbangan berikut menuju Roma di salah
satu restoran fast food burger yang
terletak di lantai dua Abu Dhabi International Airport. Ia melirik jam
tangannya. Pukul 9 malam. Di Indonesia, sekarang sudah pukul 12 malam. Pantas
saja ia mulai merasa ngantuk. Langit menyesap kopinya perlahan. Penerbangan
menuju Roma masih lima jam lagi. Mungkin ia akan menghabiskan waktunya di sini,
sebelum nanti berkumpul bersama para rombongan di depan gerbang Duty Free yang
terletak di lantai 1.
Langit mengedarkan
pandangannya sejenak ke sekeliling. Suasana bandara malam tampak ramai. Counter-counter makanan dan minuman tampak
disesaki oleh pengunjung dari berbagai negara. Sepertinya bandara ini memang
tak pernah sepi.
Setelah puas mengamati
sekitarnya, Langit kembali menekuni lirik lagu yang baru ditulisnya dan
tertegun. Tanpa sadar ia menarik napas panjang. Mungkinkah ia dapat mengemasi
semua kenangan indah yang memberi luka?
“Di sini rupanya kamu.”
Sebuah suara menarik
Langit keluar dari lamunannya. Tangan gadis itu terulur, menyodorkan iPod yang
baru di sadari Langit tidak ada di saku mantelnya. Langit menengadah, menemukan
Senja yang tengah menatapya cemberut.
“Paman Ryan yang
menyuruhku memberikannya padamu kalau-kalau kita bertemu. Ia bilang kamu pasti
ada di food court, karena kamu nggak
hobi belanja. Paman Ryan masih ada di Duty Free, berbelanja dengan Tante Ilya
di counter jam tangan. Mereka tampak
begitu antusia, sehingga aku nggak tega untuk menolak permintaan Paman Ryan
yang baik hati itu meskipun aku malas berurusan denganmu,” terang Senja panjang
lebar.
Langit menghela napas
panjang dan meraih iPod miliknya dari tangan Senja. Ia teringat pertemuannya
dengan Paman Ryan di toilet tadi yang membuat menitipkan iPod-nya.
“Seharusnya kamu nggak
perlu repot-repot mengantarkannya. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti.”
Senja mendengus sebal
saat mendengar jawaban Langit. Ia memang tidak sengaja bertemu Langit di sini.
Tapi ada di sini dan berbaik hati menyerahkan barang milik lelaki itu yang
ketinggalan, bukankah seharusnya Langit berterimakasih dan bukan bersikap
sebaliknya?
“Ada apa? Dari
tampangmu, kau terlihat kecewa. Jangan bilang aku harus bertanggung jawab sudah
mencuri waktu belanjamu karena iPod ini. Aku nggak memintamu untuk mencariku,”
cetus Langit saat melihat Senja masih saja cemberut dan membisu di depannya.
Kalau saja Senja tidak
ingat betapa mahalnya barang-barang di luar negeri, ia pasti sudah meraih gelas
kopi di meja Langit dan menyiramkannya di wajah lelaki itu.
Senja memutuskan
berbalik pergi. Malas menanggapi lelaki aneh yang bersikap ketus padanya tanpa
alasan yang jelas. Ia tidak perlu menjelaskan pada Langit bahwa kehilangan
satu-dua jam waktu berbelanja tidak ankan membunuhnya. Ia juga tidak perlu
takut lagi Langit akan mengira dirinya sengaja berkeliling untuk mencari
dirinya. Ia memang sudah selesai berkeliling di Duty Free. Pakaian, tas, jam
tangan, dan counter-counter bermerek
lainnya tidak berhasil menarik minatnya. Lain halnya bila menemukkan toko buku.
Mungkin ia akan betah berjam-jam berada di dalam sana.
Perjalanan tiga belas
hari ini memang hendak dihabiskannya untuk menikamati panorama dan mengunjungi
tempat-tempat bersejarah,bukan untuk menghabiskan uang dengan shopping. Mungkin ia hanya akan
membelikan oleh-oleh untuk orang kantor.
Dengan perasaan
dongkol, Senja bergegas turun ke lantai satu. Ia sudah kehilangan selera untuk
makan.
Pesawat mereka akhirnya
berangkat menuju Roma pukul 02.30 pagi. Lagi-lagi, Senja duduk satu deret
dengan Paman Seya dan Langit. Dalam hati, Senja berjanji selama berada di bus
perjalanan nanti, ia akan mencari posisi duduk sejauh mungkin dengan Langit.
Maaf saja jika disangka naksir atau coba-coba pedkate! Hah!
Senja mengeluarkan
notes dari dalam tasnya dan memulai menulis artikel perjalanannya. Saat tengah
asyik menulis, ia menyadari tatapan Langit tengah tertuju padanya.
“Mau apa?” tanya Senja
ketus. Ia menjauhkan notesnya, sama seperti Langit yang menyembunyikan notes
berisi not baloknya. Satu sama!
“Aku nggak berniat
mengintip tulisanmu. Sama sekali nggak penting. Tapi arah pandanganku
terbatas.” Langit mencoba menjelaskan.
“Nggak penting,
menurutmu? Oh, nggak apa. Toh kamu bukan pembaca majalah Hi, Girls!,?” rutuk Senja sebal.
“Kamu menulis untuk
majalah Hi Girls!?” Langit mendelik
Senja tak percaya. “Semoga majalah itu bersedia menerima tulisanmu,” sindir
Langit tajam. Meski tidak pernah membaca majalah Hi, girls!, Langit sering sekali melihat majalah-majalah itu
berserakan di ruang tamu atau kamar adiknya, Lea. Dari Lea pula Langit tahu,
bahwa majalah Hi, Girls! Cukup
populer di kalangan anak remaja. Lea yang masih duduk di bangku 2 SMA itu juga
mengoleksi setumpuk komik dan novel. Sifat Lea yang sangat gemar membaca itu
berimbas pada Langit. Ia selalu memaksa Langit memberi pendapat tentang sebuah
artikel yang tengah dibacanya, atau menebak ending dalam sebuah novel. Di tas
Langit sekarang bahkan ada satu buku tebal yang dijejalkan Lea diam-diam dengan
sebuah catatan pesan di atasnya: “Teman di saat suntuk selama berada di
pesawat”
“Bagaimana menurutmu?”
Alih-alih marah, Langit
terheran heran saat melihat Senja tersenyum lebar atas sindirannya. Dari cara
gadis itu menatapnya, Lagit tahu persis bahwa Senja tengah menyimpan sebuah
rahasia.
“Apa kamu freelancer di sana?” tanya Langit, yang
tidak dapat lagi menutupi rasa penasarannya. Yang ditanya tidak menjawab. Hanya
mengangkat bahu sambil tersenyum senang di sampingnya. Langit buru-buru
membuang muka dan pura-pura sibuk dengan notesnya. Dalam hati ia berdoa, semoga
mereka segera mendarat di kota Roma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar