Cute Rocking Baby Monkey

Kamis, 01 Mei 2014

One Direction - You & I



I figured it out.I figured it out from black and white.Seconds and hours.Maybe they had to take some time.
I know how it goes.I know how it goes from wrong to right.Silence and sound.Did they ever hold each other tight.Like us did they ever fight, like us.
You and IWe don't wanna be like them.We can make it to the end.Nothing can come between.You and I.
Not even the Gods above.Could separate the two of us.No, nothing can come between.You and I.Oh, you and I.
I figured it out.Saw the mistakes of up and down.Meet in the middle.There's always room for common ground.
See what it's likeSee what it's like for day and night.Never together.Cause they see things in a different light.
Like us,they never tried like us.
You and IWe don't wanna be like them.We can make it to the end.Nothing can come between.You and I.
Not even the Gods above.Could separate the two of us.
Cause you and IWe don't wanna be like them.We can make it to the end.Nothing can come between.
You and I.Not even the Gods above.Could separate the two of us.Nothing can come between.
You and I.Not even the Gods above.Could separate the two of us.Nothing can come between.
You and I.Oh, you and I.You and I.We can make it if we try.Oh, you and I.

Rabu, 09 April 2014

Cara Install BlueStacks di Komputer

Sobat ingin memainkan game Android di komputer atau laptopnya ? Sobat bisa menjalankan berbagai aplikasi Android pada PC kamu dengan menggunakan softwareBlueStacks. Simak cara install BlueStacks di komputer atau laptop sobat.

Saat sobat menggunakan smartphoneAndroid, terkadang sobat menemukan aplikasi yang menarik dan sepertinya dapat berguna jika dapat diinstall pada komputer. Hal ini sobat bisa dilakukan dengan menggunakan emulator yang memungkinkan aplikasi Android dijalankan pada PC.

BlueStacks adalah software emulator Android yang memungkinkan sobat untuk dengan mudah men-download dan install aplikasi Android favorit Sobat ke Komputer.

Untuk memudahkan penggunanya, BlueStacks terintegrasi dengan sistem PC. Klik My Computer dan Sobat akan menemukan folder My Apps. Disini, Sobat bisa membuat shortcut untuk aplikasi yang sobat miliki dan menempatkannya di desktop untuk mempermudah akses.
Karena sebagian besar aplikasi Android saat ini dirancang untuk tablet, maka tampilan aplikasi sangat cocok digunakan pada PC.

Kemudian sobat dapat menggunakan mouse sebagai pengganti jari ketika mengakses dan mengoperasikan berbagai aplikasi yang ada. Jika kamu menggunakan PC touchscreen, maka sobat bisa mengoperasikannya seperti pada smartphone atau tablet Android.

BlueStacks juga menyediakan beberapa tombol di bagian bawah sebagai pengganti softkey yang biasa ditemukan pada device Android, yang tentunya menjadi bagian penting dalam menjalankan software ini.
Nah, sekarang kamu sudah mengetahui fungsi software BlueStacks. Lalu, bagaimana cara instalasi BlueStacks pada Komputer di Windows?

Cara Install BlueStacks di Komputer


  1. pertama sobat harus terlebih dahulu men-download BlueStacks
  2. Setelah download selesai, klik file installer untuk mulai menjalankan instalasi. Lalu klik "Continue" untuk melanjutkan
  3. Centang App Store access dan App Notification, kedua hal ini penting agar BlueStacks dapat bekerja secara optimal. Selanjutnya, klik tombol "Install
  4. Proses instalasi akan berjalan selama beberapa waktu, tergantung komputer kamu.
  5. Setelah instalasi selesai, Home Screen akan tampak seperti berikut : 
  6. Klik search bar di kanan atas untuk mencari aplikasi yang ingin kamu download dan install.
  7. Contohnya kamu ingin menginstall Angry Birds Star Wars, maka ketikkan di search box tersebut kemudian klik install.
  8. Lalu sobat akan menemukan 4 source aplikasi Angry Birds Star Wars, yaitu 1Mobile, GetJar, Amazon Apps dan Google Play.
  9. Sobat bisa langsung download aplikasi dari 1mobile atau GetJar, sementara Amazon Apps dan Google Play akan meminta sobat untuk sign-in sebelum download.
    Pilih source yang sobat inginkan, kemudian download dan install.
Setelah instalasi selesai, sobat bisa mengakses setiap aplikasi melalui "My Apps".

Dengan menggunakan BlueStacks, kamu dapat menjalankan berbagai aplikasi Android di PC dengan mudah. Bahkan games dengan grafik yang cukup tinggi dapat berjalan dengan mulus.

perlu diketahui BlueStacks adalah sebuah emulator, namun sobat benar-benar dapat menikmati pengalaman yang mengesankan. sobat dapat menggunakan hampir seluruh aplikasi Android menggunakan BlueStacks. Walaupun saat ini BlueStacks masih dalam tahap Beta, namun software ini cukup mengesankan dan direkomendasikan bagi sobat yang membutuhkan emulator Android.

System Requirements:
  • Processor 1 GHz atau lebih.
  • RAM 2 GB atau lebih.
  • Kapasitas hard disk minimum 800 MB.
  • OS Windows XP, Vista & 7 (32 dan 64 bit)
Cukup jelaskan cara cara nya dan Selamat mencobanya sobat.
Source : cara instal bluestack, cara install bluestack, cara menjalankan  android, cara menjalankan aplikasi android, menjalankan aplikasi android di pc, menjalankan aplikasi android di laptop, cara menjalankan  android di laptop, cara menjalankan  android di pc, cara menjalankan  android di komputer, cara cara install android jelly bean.

Rabu, 02 April 2014

Cara Cepat Menghafal Rumus


Cara Mudah Mengahafal Rumus - Menghafal rumus matematika memang terkadang menemui beberapa kendala. Selain kemampuan daya ingat masing-masing orang berbeda, bentuk rumus matematika yang mirip-mirip pun menjadi hambatan tersendiri bagi kita yang ingin menghapalnya. Terkadang saat menghapal rumus matematika itu malah menjadi tertukar dengan rumus lainnya.Ada beberapa cara dalam memudahkan kita untuk menghafal rumus matematika. Sebelum memulai, ada baiknya kita sedikit mengetahui karakteristik otak manusia. Pada dasarnya, otak manusia bisa menyimpan memori atau ingatan yang lebih lama jika dibantu dengan visualisasi yang sesuai. Otak kiri dicirikan dengan karakteristik yang berhubungan dengan kemampuan analisis, logis, urutan, objektif dan rasional. Dengan karakterisitik ini, orang yang dominan menggunakan otak kiri cenderung memiliki pendekatan rasional terhadap kehidupan.Di sisi lain, karakteristik yang terkait dengan otak kanan adalah intuitif, acak, subjektif, holistik (secara menyeluruh) dan sintesis. Dengan karakteristik ini, orang yang dominan dengan otak kanan cenderung lebih kreatif ketimbang orang yang dominan otak kiri. Orang dengan dominansi otak kanan lebih cenderung menyukai aspek visual, seni, musik dan imajinasi.Secara singkat, otak manusia yang digunakan untuk menyimpan memori terbagi kepada dua bagian, yaitu otak kiri untuk perhitungan, dan otak kanan dengan fungsi visual atau imajinasi. Mungkin anda pernah bertemu dengan seseorang tapi anda lupa siapa namanya. Hal ini dikarenakan otak lebih cepat menyimpan informasi yang terlihat wujudnya, atau dengan kata lain ada visualisasi. Menghafal dengan cara mengulang-ulang kata atau kalimat itu nampaknya masih kurang memiliki dukungan visualisasi, sehingga berikut ini akan saya share tentang teknik menghafal rumus matematika menggunakan warna.Cara menghafal rumus matematika dengan warna ini semoga dapat mempermudah kita dalam menghafal rumus yang kebanyakan orang bilang “susah”. Karena dengan warna kita dapat menggunakan sekaligus otak kanan dan otak kiri kita untuk langsung bekerja menghafal rumus-rumus yang kita inginkan (kalau tidak percaya, silakan tanya kepada para akhlinya). Dengan warna tidak lain kita akan cepat mengingat apa yang kita lihat. Silakan coba menghafal dengan warna default (hitam) dan bandingkan dengan menghafal menggunakan warna tentu kita lebih cepat menghafal dengan warna. Maka dari itu mulai dari sekarang, silakan anda coba menghafal rumus dengan cara sebagai berikut:Alat Bahan:1. Kertas HPS (Kertas Kosong)2. Beberapa sepidol, minimal 2 dengan warna cerahCara menggunakannya anda cukup menulis ulang rumus yang akan anda hafal di kertas kosong tersebut dengan menggunakan warna yang yang berbeda untuk masing-masing rumus yang akan dihafalkan. Kemudian silakan cari tempat yang anda rasa nyaman (Usahakan bebas dari polusi dan udaranya sejuk). Maka rumus akan cepat anda hafal.Semoga dengan metode menghafal rumus dengan membedakan warna seperti yang tadi telah dibahas, dapat mempermudah pembaca sekalian dalam menghafal rumus matematika. 

Sabtu, 22 Februari 2014

I Would - One Direction

One Direction I Would is a track from their album "Take Me Home".


 
Lately I found myself thinking
Been dreaming about you a lot
And up in my head I'm your boyfriend
But that's one thing you've already got

He drives to school every morning
While I walk alone in the rain
He'd kill me without any warning
If he took a look in my brain

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would (I would)
Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would

Back in my head we were kissing
I thought things were going alright
With a sign on my back saying ‘kick me'
Reality ruined my life

Feels like I'm constantly playing
A game that I'm destined to lose
'Cause I can't compete with your boyfriend
He's got 27 tattoos

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would (I would)
Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would (I would, I would)

Would he please you?
Would he kiss you?
Would he treat you like I would (I would)?
Would he touch you?
Would he need you?
Would he love you like I would?

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would

Would he please you? Would he please you?
Would he kiss you? Would he kiss you?
Would he treat you like I would? (like I would)
Would he touch you? Would he touch you?
Would he need you? Would he need you?
Would he love you like I would?

Would he say he's in L-O-V-E?
Well if it was me then I would (I would)
Would he hold you when you're feeling low?
Baby you should know that I would, I would, yeah, I would, yeah.

Minggu, 16 Februari 2014

Gombal VS Galau

Gombal VS Galau

“Bunda, Melia berangkat dulu ya” (beranjak dari teras langsung berjalan mencari Bunda untuk pamit dan mencium tangannya) ribet nggak dibayangin? Intinya begitulah.
“Iya, sering-sering berangkat pagi Mel” kata Bunda sambil melihatku menuju motor.
“Jamnya tadi mati Bun, Melia kira udah telat” jawabku sambil menoleh kepada Bunda
“ohh…jangan dibelikan baterai ya Mel! Biar kamu berangkat pagi terus” kata Bunda sambil tersenyum. “yahh….itu sih efek 2M bun” Jawabku sambil nyengir. “apa lagi tuh kepanjangannya Mel?” Tanya Bunda penasaran. “makan dan mandinya Melia ‘kan lemot, Bun” Jawabku polos. “hahaha…..kamu sadar sendiri, ya sudah berangkat sana” jawab Bunda dengan ketawa kecilnya. “Siap Bunda!” Jawabku.

***
Setelah sampai disekolah, suasana yang sangat jarang aku temui. Para siswa masih bisa dihitung dengan jari telunjukku alias belum ramai. Selama perjalanan ke kelas, aku asyik mendengarkan lagu Bondan Prakoso disusul Jamrud pada I-podku. Semakin dekat dengan kelas, dari celah jendela terlihat Vita teman sekelasku sedang sibuk piket kelas hari ini.


“Selamat pagi, Vita” Sapaku dengan senyum merekah. 

“Tumben berangkat jam segini, Mel” Kata Vita sambil nyengir. 
“Yahhh…..jawab sapaku dulu kek” kataku dengan nada kesal. 
“Uppss….Sorry! Good Morning Melia” jawab Vita dengan gaya Britishnya. 
“haduuhh…..Vita, Vita….turun pamor kalau kamu ngomong English. Bedo’ Jawamu itu lohh masih kental banget. Whuahahaha” Ledekku pada Vita. 
“yahh…terserah kamu saja Mel.” Jawab Vita dengan nada kesal.



Jam terus berputar! uppss…..maksudku waktu terus berputar. Semakin lama, semakin banyak kaki yang berjalan menuju kelas masing-masing untuk menimba ilmu (bukan menimba air ya! Itu beda lagi). Sementara aku sangat menikmati pemandangan disekitar sekolah yang penuh penghijauan sambil duduk di depan kelas dan sibuk mengutak-atik I-podku.


Yo’ Ku jelang matahari dengan segelas teh panas
Di pagi ini ku bebas, karena gak ada kelas
Di ruang mata ini, kamar ini serasa luas
Letih dan lelah juga, lamba-lambat terkuras
Teh sudah habis, kerongkonganku pun puas
Mulai kutulis semua kehidupan di kertas
Hari-hari yang keras, kisah cinta yang pedas
Perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas
Reff: Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli ‘tuk ironi tragedy
Senang bahagia, hingga kelak kau mati

Aku ikut bernyanyi setiap lagu pop asli Indonesia yang kudengar dari I-podku. Tiba-tiba kudengar suara: Tuttt….Tuuttt…..Tuuttt….(bukan suara kentut, tapi bel masuk sudah berbunyi). Aku segera bergegas ke kelas, sebelum pelajaran dimulai. Kami sarapan rohani terlebih dahulu atau membaca do’a agar Tuhan juga membantu perkembangan Ilmu kami.

Yap…..15 menit berlalu. It’s time to study. Pelajaran pertama kebetulan gurunya sedang ada pelatihan diluar kota, jadi kelasku mendapat pesan untuk mengerjakan latihan soal yang ada di buku paket masing-masing. Di tengah mengerjakan soal, aku baru sadar ada temanku yang sedang asyik diam, melamun, dan melototin buku paketnya doang. Namanya Raisha, biasanya dia selalu meramaikan kelas dengan kejailannya bersamaku. Tapi, sayang sekali hari ini dia hanya diam. Aku berharap dia bukan sakit gigi, biasanya kalau sakit gigi ‘kan jarang bicara.

Hampir 1 jam berlalu, kelas ku sangat-sangat sunyi, sepi, dan hening layaknya kuburan. Akhirnya kursi paling belakang ada yang nyeletuk nyanyi lagu-lagu pop (bukan kursinya yang nyanyi ya, tapi temanku yang duduk di kursi paling belakang) dan teman-teman termasuk aku juga ikut bernyanyi untuk memecah suasana serius kami karena soal-soal tersebut. Tetapi, Raisha masih saja terdiam tanpa respon sedikitpun. Kemudian, Vita teman sebangkunya mencoba bertanya keadaannya, tetapi Raisha tetap ‘tak menggubris. “sepertinya Raisha sedang galau” tebakku dalam hati

Karena penyakit penasaran plus jailku lagi kambuh, aku coba memberanikan diri untuk jailin dia. Tapi jailnya bukan ikat tali sepatunya atau mainin penghapus whiteboard yang biasa akku tempelin di tangan teman-teman. Kalau itu yang aku lakuin, maka niat aku untuk menghibur malah salah jalur nanti. Hari ini jailku beda, spesial untuk Raisha partner Jail dikelasku. Cukup lama aku mikir, nggak tau kenapa langsung dapat wangsit buat ngegombal aja. Siapa tau ampuh buat memberantas kegalauannya. Akhirnya aku tutup buku, dan beranjak untuk menghampiri Raisha dan duduk disampingnya. Kebetulan Vita lagi nabung di toilet (Gubrak).

“Ehemm..Ehemm..Sha, buku siapa ini? Keren sampulnya” kataku memulai pembicaraan. 
“Milikku, Mel” Jawab Raisha singkat tanpa menoleh sedikit pun. 
“Wahh…indah ya, seindah parasmu” kataku sambil nyengir. 
Tiba-tiba Vita langsung menghampiriku dan berkata 
“Emangnya wajah Vita mirip sampul ya?”. 
“Iya, sampul hatiku. Udah selesai kamu nabung?” tanyaku. 
“udah..lega rasanya! Hehe” jawab Vita. 
“selega hatiku jika melihat Raisha tersenyum merekah kembali ‘bak mawar merah” kataku menggombal lagi. 
“wahh….parah nih, cewek digombalin juga sama Melia” kata Vita dengan wajah curiga. 

Tiba-tiba Raisha menoleh dan langsung memegang dahiku dengan punggung tangannya. 
“suhu tubuhmu nggak panas, whuahahaha…Mel, Mel kebanyakan nonton Fesbukers kamu ya? Gombalan kamu buat perutku nggak bisa nahan ketawa” kata Raisha sambil memegang perutnya. 
“gitu dong ketawa! Kenapa sih kamu tadi diam aja?” tanyaku penasaran.
“ohhh…..galau gara-gara Revan cowokku” jawab Raisha dengan santainya.

Setengah jam Aku dan Vita sempatkan waktu mendengarkan curhatan Raisha. Ternyata galau karena diselingkuhin. Hmmmm…..zaman sekarang pacar nggak cukup satu. Jadi, Aku sih nggak mau repot mikirin soal playboy atau playgirl. Karena karma itu masih berlaku, bisa dibilang hukum sebab-akibat kata guru fisika. Karena setelah putus dari Raisha, si Revan malah diselingkuhin sama pacar pertamanya dan dia juga harus pindah sekolah karena orang tuanya terancam bangkrut. Apes banget hidupnya. Tapi dari kegalauan yang dirasakan Raisha, aku bisa tau kalau hadiah atau kata-kata motivasi memang bisa melawan galau. Tapi yang lebih ringan tanpa ngerepotin diri sendiri itu adalah “ngegombal”. Ada kesan tersendiri digombalin begitu.
***

Keesokan harinya Raisha malah gantian ngegombalin aku dan dia enjoy setelah mutusin Revan.

“Mel, kamu tau nggak perbedaan kamu sama matematika?” Tanya Raisha padaku sambil menjambret I-podku untuk mengecilkan volumenya. 
“nggak tau, emangnya apa?” tanyaku penasaran. 
“kalau matematika semakin dipelajari semakin buat aku pusing, tapi kalau pelajarin kehidupan kamu semakin buat aku nambah cinta” jawab Raisha dengan ekspresi serius. 
“whuahahaha…..ueekkk nggak mempan gombalannya mbak’e” ledekku.
“dasaar…coba balas gombalanku” tantang Raisha kepadaku. 
“Okay, aku mikir dulu. Nahhh…ada nih! Dengerin baik-baik ya. 
“kataku dengan serius. 
“ya aku dengerin, emangnya apa?” Tanya Raisha. 
“Kamu tau nggak persamaan kamu sama I-podku?” Tanyaku. 
“emangnya apa persamaannya?” Tanya Raisha penasaran. 
“I-podku ini sudah lama aku bawa kemana-mana dan aku nggak bisa hidup tanpa dengerin musik, sama seperti kamu yang selalu aku pikirin kemanapun aku pergi karena kamu itu hidupku”. Jawabku dengan nada puitisasi.
“wahh…kereenn…kereenn…kamu menang deh, Mel.” Kata Raisha sambil bertepuk tangan. Tiba-tiba Vita yang baru datang langsung bernyanyi untuk Raisha. “Sha, ini lagu buat kamu”

Hidupku sangat sempurna
menikmati hidup yang aku punya
berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy
 

THE END

Kamis, 13 Februari 2014

Yaelaaah (a short story)

yaelaah

Yaelaaah (a short story)

Disebuah kafe di bilangan kemang

Rizka sedang duduk sambil melihat ke sekeliling. Suasana malam minggu yang cukup ramai. Ia melongok ke ponselnya, hanya untuk melihat empat digit angka yang menunjukkan waktu. Mungkin kalau ponselnya bisa bicara, dia akan berkata stop clockwatching girl. Jus jeruk yang ia pesan sudah habis setengahnya. Pengunjung kafe lain sudah larut dalam pembicaraan yang asyik dengan teman atau pacar mereka

“Kemana sih, kok lama banget,” eluhnya dalam hati.

Pandangan Rizka tertuju kepada seorang pria yang baru saja datang ke dalam kafe.

“Gila…, ganteng banget.”

Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa melalui persetujuan otak besarnya. Pria muda yang sepertinya berusia 25 tahunan, seumuran dengannya. Rambutnya berdiri, kulitnya putih, dengan badan yang atletis. Sebuah senyum meluncur dari pria itu kepada Rizka ketika ia mendapati Rizka melihatnya tanpa kedip. Rizka langsung tersenyum malu.

Mungkin Tuhan butuh waktu lama untuk menciptakan setiap lekuk pria itu. Pria itu berjalan dengan tegap dan gagah ke arah Rizka. Apakah dia tiba-tba datang untuk berkenalan dengannya ? Rizka memang sudah dandan habis-habisan malam minggu ini dan dia masih single. Pria mana yang tak tertarik dengan tubuh molek dan wajah canatiknya.

      Rizka makin melebarkan senyumnya dan berdiri, hendak menyapa pria itu. Ia yakin 100 persen pria itu datang untuk menemuinya. Pria itu masih saja tersenyum kepada Rizka. Rizka menjulurkan tangannya ketika pria itu sudah dekat sekali dengan mejanya.

“Hai…,” sapa Rizka pelan.

Wuss. Pria itu melewati Rizka dan duduk di meja yang berjarak dua meja darinya. Rizka langsung duduk dan menutup wajahnya karena malu. Salah seorang pengunjung kafe yang duduk di depan Rizka menutup mulutnya yang sedang menertawakan kejadian tadi.

“Aduh bego banget sih gw,” kata Rizka dalam hati.

Selama semenit ia tak berani melihat ke sekeliling.

“Hai Rizka, kenapa lo ?”

Dua orang wanita berdiri di depan mereka. Akhirnya orang yang ia tunggu datang juga. Mereka adalah Sally dan Dona, teman baik Rizka. Mereka memang berencana menghabiskan malam minggu ini bersama di kafe ini. Banyak yang merekomendasikan kafe ini karena live music-nya. Mungkin 10 jam lagi mulai.

“Nggak. Ayo duduk. Kok lama banget sih ?”

“Macet banget. Lo dah lama ?” Dona dan Sally duduk di depan Rizka.

“Yaelah. Nenek gondrong juga tahu kali Don kalau Jakarta pasti macet. Gw dah 20 menit nungguin kalian.”

“20 menit doang. Mas-mas minta menunya dong,” Dona berkata kepada pelayan yang baru saja lewat.
Pelayan itu datang sambil membawa dua buku besar yang berisi daftar menu.

“Lo belom pesen kan Riz ?”

“Belom. Yang enak disini apa ya mas ?” kata Rizka sambil membolak-balikkan menu.

      “Menu spesial yang banyak dipesan disini adalah surprised sirloin steak, bombastic fried rice, dan grilled chiken with volcano sauce. Kalau minumnya yang spesial itu ada Jus remang-remang, Ice gold capucino, dan cendol strawberry.”

      Akhirnya mereka memesan tiga menu yang judulnya aneh-aneh itu. Pelayan pergi dan mereka menunggu pesanan. Penyanyi live music sudah naik ke panggung, sedang bersiap-siap untuk tampil.

“Emang bener lo milih tempantnya Don, disini bagus banget,” kata Sally.

“Iya gw suka tempatnya. Dekorasinya modern minimalis, membuat pengunjung nyaman. Walau pengunjung ramai tapi tempatnya nggak berisik,” lanjut Rizka.

“Bukan itu maksud gw. Bagus dan indah tuh karena itu….” kata Sally sambil menunjuk ke sebuah arah dengan kepalanya.

Rizka dan Dona melirik ke arah tersebut. Sally menunjuk ke pria yang tadi sempat membuat Rizka ke-GR-an. Dia sedang duduk sendiri sambil mengamati penyanyi diatas panggung yang sedang cek sound.

      “Udah deh. Kok desperate banget sih jadi jomblowati. Lihat cowok bening dikit langsung jadi buas,” kata Rizka.

“Tumben lo Riz. Biasanya lo yang paling agresif diantara kita,” sahut Sally.

“Habis tadi….”

Rizka menceritakan insiden kecil yang dia alami.

“Hahaha. Lo sih GR banget. Tapi tuh cowok emang ganteng banget. Semua gebetan kita lewat deh. Kira-kira dia lagi nungguin siapa ya ?” kata Dona.

“Ceweknya ?”

“Kayaknya nggak deh. Harusnya kan cowoknya jemput ceweknya dan mereka sampai sini barengan.”
“Jadi…?” tanya Rizka.

“Dia sama kayak kita. Dateng ke kafe ini untuk menikmati makanan dan live music-nya,” kata Dona.

“Eh dia ngelihat ke arah kita.”

Dona, Rizka, dan Sally langsung sok jual mahal ketika pria itu tersenyum ke arah mereka. Langsung beribu harapan terpikirkan oleh mereka sebagai tanggapan atas senyum itu.

“Eh dia ngasih harapan tuh.”

“Apaan sih. GR banget deh.”

“Gimana kalau…., kita bertanding. Siapa yang berhasil tuker-tukeran nomor atau PIN, dia yang menang.”
“Hadiahnya ?”

“Ya tuh cowok.”

“DEAL,” kata mereka bersahutan. Refleks mereka langsung menutup mulut karena suara itu cukup menyita perhatian sekeliling.

Lagu pertama sudah berdendang. Sebuah lagu dari ten 2 five berjudul i will fly dimainkan dengan sangat apik oleh sang penyanyi.

“Siapa duluan ni ?”

“Gambreng aja.”

“Yuks ah.”

Oke giliran pertama Dona, Sally, lalu Rizka.

“Lo duluan gih Don.”

“Oke, lihat nih cara gw.”

Dona langsung mengeluarkan alat make upnya. Dia memastikan kecantikannya berada di posisi tertinggi. Lipstik, eyeliner, blush on, sudah oke. Dona berjalan ke arah pria itu yang sedang serius mendengarkan live music. Dona melewati depan pria itu dengan anggun.

“Mbak-mbak,” pria itu berdiri dan memanggil Dona.

“Yaa,” kata Dona sambil membalikkan badannya dengan dramatisir. Dress yang ia kenakan sedikit tersibak oleh gerakan tubuhnya. Ia menyibak poninya yang panjang sambil menatap pria itu dengan halus.

“Dompetnya jatuh,” kata pria itu sambil menyodorkan sebuah dompet berwarna merah muda.

“Sepertinya itu bukan dompet saya.”

“Dan pasti ini juga bukan dompet saya. Tadi saya lihat dompetnya terjatuh dari tas Mbak.
Pria itu menyipitkan matanya.

“Apakah semua dompet merah muda punya saya ? Mungkin itu dompet pacarnya mas.”

“Saya belum punya cewek mbak. Mbak ini…,” pria itu membuka dompet itu dan melihat sebuah kartu.

“Mbak ini Dona Doradora kan ? Fotonya juga sama ?”

“Iya saya Dona, kamu ?” Dona langsung menyodorkan tangannya.

“Rudolf,” pria itu menjabat tangan Dona namun dengan wajah yang masih kebingungan.

“Kayaknya emang bener deh ini dompet saya. Terima kasih ya Rudolf. Ini….” Dona mengeluarkan selembar lima puluh ribu dan memberikannya kepada Rudolf.

“Oh nggak usah mbak. Saya Cuma kebetulan melihat dompet mbak jatuh. Sudah kewajiban saya untuk mengembalikannya.”

“Mbak ? Panggil aja Dona.”

“Iya Dona. Saya nggak bisa nerima. Lagipula saya nggak kekurangan uang kok.”

“Memangnya kamu setajir itu sampe nggak doyan 50.000.”

“Ya saya kan udah punya kerjaan yang bagus jadi nggak ada masalah keuangan.”

“Emang kamu kerja dimana ?”

“Saya kerja sebagai supervisor sebuah perusahaan minyak.”

Cring-cring-cring. Dona langsung membayangkan betapa sempurnanya pria ini; ganteng, tajir, baik pula.

“Oh yaudah.”

Dona memasukkan kembali uang 50.000 itu ke dompetnya. Dona melotot sambil melihat ke arah dompetnya. Ekspresi kaget.

“Hah ???”

Dona langsung pingsan atau tepatnya pura-pura pingsan dan mendaratkan tubuhnya kearah  Rudolf. Dengan relfeks Rudolf menangkap tubuh Dona. Jreng, adegan Dona jatuh ke pelukan Rudolf.

“Brengsek si Dona. Ngapain dia pura-pura pingsan segala,” komentar Sally dari mejanya.

“Dona, kamu kenapa ?” kata Rudolf sambil menepuk pelan pipi Dona. Dona membuka matanya perlahan. Rudolf mendudukan Dona di kursi.

“Kartu kreditku hilang. Gimana dong ?” Dona langsung mengggenggam erat tangan Rudolf sambil memancarkan mata yang berbinar-binar. Rudolf menarik tangannya dari genggaman Dona.

“Yang benar, coba saya lihat.”

Rudolf langsung mengambil dompet merah jambu itu dan mengeceknya.

“Ini ada…,” kata Rudolf sambil mengeluarkan sebuah kartu berwarna kuning.

“Ya ampun, ceroboh sekali aku sampai tak melihatnya. Terimakasih ya Rudolf. Kamu baik sekali,” Dona langsung memeluk Rudolf selama beberapa detik untuk menunjukkan rasa terimakasihnya.

“Kamu baik rudolf. Kalau kamu nggak mau terima uangku. Kamu harus terima ini,” Dona menyerahkan sebuah kartu. Itu kartu nama. Rudolf mengambilnya.

“Kamu punya kartu nama ?”

“Nggak punya.”

“Tapi nomor punya kan ?” Dona langsung mengeluarkan ponselnya.

“Punya.”

“O8…., berapa ?” Dona menatap Rudolf dengan halus.

“Oh, 08….”

Tak lama kemudian Dona kembali ke mejanya.

“Gw berhasil.”

“Buaya lo Don. Sok-sok agresif gitu,” kata Sally.

“Bodo. Yang penting gw berhasil dapetin nomornya.”

“Gimana ? Dia kerja dimana ? Udah punya cewek ?” tanya Rizka.

“Cari tahu sendiri dong.”

“Oke giliran gw. Kalau misalnya kita bertiga dapetin nomor tuh cowok gimana ?”

“Ya persaingan berlanjut ke tahap pendekatan.”

“Fine. Siapa takut. Lihat nih cara gw. Cowok kayak gitu itu harus dimenangkan dengan cara romantis.”

“Banyak omong lo. We need evidence not your talk.”

Sally berdiri dan langsung menuju ke panggung live music. Dia berbicara beberapa kalimat ke penyanyi yang kebetulan tepat sekali sedang diantara jeda dua lagu. Tak lama kemudian Sally sudah siap bernyanyi. Memang pengunjung diperbolehkan menyumbangkan suaranya.

“Hedeh tuh anak. Tahu deh yang jago nyanyi,” komentar Rizka.

“Mau nyanyi apa tuh ?”

“Ya satu lagu dari Carly Rae Jepsen berjudul Call me maybe.”

Hey i’ve just met you and this is crazy but here’s my number so call me maybe.” Sally sedikit menunjuk ke arah Rudolf ketika menyanyikan reffnya.

Satu lagu sudah dinyanyikan dengan sangat apik oleh Sally. Semua terpukau olehnya, termasuk rudolf. Dia memang berbakat dalam menyanyi. Sally mengucapkan terimakasih dan turun dari panggung. Dia berjalan menuju meja Rudolf. Rudolf melemparkan senyum kepadanya.

“Hei boleh minta tanda tangannya,” kata Sally menyodorkan secarik kertas dan bolpoin ke Rudolf.

“Hah ?” Rudolf menyipitkan matanya.

“Kamu ini penyanyi Petra Sihombing kan ?” kata Sally polos.

“Bukan….”

“Nggak usah bohong. Saya ini fans berat kamu,” Sally duduk di kursi sebelah Rudolf.

“Tapi saya bukan Petra. Memangnya mirip ya ?”

“Menurut aku mirip. Jadi kamu bukan Petra ?”

“Bukan.”
 
“Buktinya ?”

Rudolf mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan KTPnya. Dona langsung membaca dan menghafalkan semua data di KTP itu.

“Oh jadi kamu ini Rudolf ya.  Maaf saya pikir Petra. Saya nyanyi bagus-bagus biar kamu tertarik, siapa tahu lagi butuh penyanyi duet.”

“Nggak apa-apa. Saya suka kok sama suara kamu. Bagus.”

“Makasih.Ini di KTPnya status belum kawin. Ini belom di update ya datanya.”

“Nggak. Emang begitu adanya.”

“Tapi paling sebentar lagi ganti kali ya.”

“Kayaknya masih lama mbak.”

“Mbak…? Kenalin, saya Sally. Usia saya 25 juga kok, sama kayak kamu.”

Mereka pun bersalaman. Lima detik, tujuh detik, sepuluh detik. Rudolf menarik tangannya dari Sally yang tak mau melepaskan.

“Oh jadi masih lama tuh status berubah. Eh ceweknya mana ? Kamu sendiri aja ?”

“Oh kalau cewek saya belum punya Mbak…, eh Sally maksud saya.”

“Emang zaman sekarang nyari perempuan yang baik-baik itu susah ya. Jarang yang nyari bener-bener suka bukan karena tampang dan harta,” kata Sally lembut.

“Ehm…,ya.”

“Eh ini KTPnya.” Sally menyerahkan KTP Rudolf.

“Pekerjaan karyawan swasta. Karyawan dimana ?”

“Oh salah satu perusahaan minyak asing.”

Wuih gaji gede nih kayaknya. Sally langsung berpikir kalau pria ini begitu sempurna; ganteng, tajir, baik. Sally melihat Rudolf tanpa kedip selama beberapa saat.

“Kenapa ?”

Sally langsung memasang wajah murung. Dia menunduk.

“Loh kenapa ?”

“Kamu mengingatkan saya dengan mantan saya. Muka kalian mirip.”

“Kenapa emang sama mantan kamu ?”

“Saya sangat mencintai dia. Kami sudah jadian selama 4 tahun. Kami saling mencintai. Namun suatu malam…., dia mengalami kecelakaan. Hiks-hiks.”

“Aduh jangan nangis dong,” Rudolf terlihat bingung harus bertindak bagaimana.

“Kalimat terakhir yang dia ucapkan kepada  saya adalah…, dia sangat mencintai saya.”

Sally langsung memeluk tubuh Rudolf. Rudolf terlihat kaget dengan perbuatan Sally. Pengunjung kafe yang lain terlihat sama bingungnya dengan Rudolf.

“Selama ini aku selalu setia walaupun dia sudah meninggal, tapi ketika melihat kamu…, sepertinya Tuhan menghidupkannya lagi. Kalian begitu mirip.”

“Sally, mungkin kita berdua hanya mirip namun kami berbeda,” Rudolf mengelus rambut Sally dan kemudian mencoba melepaskan pelukan Sally. Dia mulai risih.

“Berjanjilah untuk menjadi…, paling tidak temanku. Bantu aku untuk lepas dari mantanku.”

“Baik-baik aku bantu kamu.”

“Terima kasih Rudolf. Boleh minta nomor kamu ?”

“Iya…, catet ya 08….”

Tak lama kemudian Sally kembali ke meja dengan wajah senang. Dia mengangkat ponselnya dan menunjukkan secara sekilas ke Dona dan Rizka.

“Gw berhasil. Dia mau jadi temen gw. Gila tuh cowok sempurna banget deh. Pokoknya gw yang bakal dapetin.”

Dona dan Sally melihat ke arah Rizka. Rizka menarik nafas panjang. Sekarang giliran dia. Dia mengambil jeda selama 10 menit. Sebuah strategi sudah terpikirkan olehnya.

”Oke giliran gw. Kalian boleh mencari mangsa lain karena dia akan menjadi milik gw. Lihat nih cara gw.”
Rizka berdiri dan menuju ke meja Rudolf.

“Hei.”

“Eee, hei,” Rudolf bingung mendapati wanita asing datang ke mejanya.

“Maaf ya.”

“Maaf atas apa ?”

“Maaf atas kelakuan dua sepupuku ya.”

“Oh jadi Sally dan Dona itu sepupu kamu.”

“Iya…,” kata Rizka sambil duduk di samping Rudolf.

“Agak aneh sih kelakuannya. Sebenarnya ada apa sih ?”

“Begini mas….”

“Rudolf.”

“Begini Rudolf, sebenarnya mereka itu lagi marahan sama suami-suami mereka.”

“Mereka sudah nikah ?”

“Sudah. Memangnya mereka tidak bilang begitu ?”

“Tidak. Mereka bertindak seakan mereka masih single.”

“Ya ampun…, sebegitunya mereka. Jadi mereka lagi bertengkar sama suami mereka. Kalau di Dona karena suaminya  nggak bisa ngasih uang belanja buat dia. Dona sih mintanya 100 juta. Ya hari gini duit segitu kan gede.”

“100 juta sebulan ? Buat apa ?”

“Ya buat belanja-belanjanya si Dona. Dia memang gila belanja. Dia Cuma mau sama cowok yang tajir dan yang kelihatannya tajir seperti mas.”

“Gila sih 100 juta sebulan.”

“Kalau si Sally lagi bertengkar sama suaminya karena dia mau dinas keluar kota selama 1 minggu dan dia nggak diajak.”

“Loh apa yang harus dibertengkarkan ?”

“Sally itu amat sangat posesif. Dia nggak akan ngebiarin suaminya pergi kemanapun tanpa ada pengawasan, bahkan ke kamar mandi. Dia itu agak…, psyco.” Rudolf langsung memasang tampang takut.

“Ya jadi mereka sekarang ini lagi cari yaah…, pelampiasan lah. Lebih baik kamu hati-hati ya Rudolf.”

“Oke-oke terima kasih Infonya….”

“Rizka, nama saya Rizka.”

“Jadi dompet jatuh dan mantan yang meninggal itu bohong ?”

“Emmm, ya pasti bohong.”

“Ya ampun….”

“Kenapa Rudolf ?”

“Saya ngasih nomor saya ke mereka lagi. Kalau mereka nelpon atau SMS gimana ?”

“Gini aja. Kita tuker-tukeran nomor. Kalau misalnya mereka hubungin kamu, kamu hubungi saya biar saya kasih tahu harus gimana biar terhindar dari mereka. Oke ?”

“Oke terima kasih.”

“Ngomong-ngomong ada apa itu di bibir kamu.”

“Apa ?” kata Rudolf sambil memegang bibirnya.

Rizka mengambil tisu dan mengusap bibir Rudolf. Dia melirik Dona dan Sally di meja seberang dengan tatapan menantang.

“Eh aku pegang-pegang gini nanti ada yang marah lagi.”

`     “Semoga nggak.”

“Loh emang cewek kamu mana ? Lagi ke toilet ? Atau belum dateng ?”

“Saya belum punya cewek.”

Tak lama kemudian Rizka kembali ke meja. Yang terpenting dia berhasil kenalan, mendapat nomor dan gerbang untuk mengalahkan dua saingannya. Dia yakin kali ini dia yang akan menang.

“Wah ternyata kita bertiga berhasil. Berarti saingan tetap berlanjut ya,” kata Dona.

“Siapa takut,” kata Rizka dengan senyum licik.

Mereka kembali menikmati makanan dan musik yang merdu.

“Eh-eh lihat deh cowok yang baru dateng itu…,” Sally menunjuk ke pria muda yang baru memasuki kafe.

“Gw baru tahu kalau Christian Sugiyono, Marcel Chandrawinata, dan Dude Harlino main satu sinetron, memperebutkan seorang wanita, dan pada akhirnya si wanita melakukan poliandri dan menghasilkan anak seganteng itu,” komentar Dona.

“Eh, eh cari tahu nomor teleponnya lagi yuk,” ujar Sally sambil memandangi pria itu tanpa kedip.

“Terus si Rudolf ?”

“Kunci sama ban aja ada serepnya, masa cowok nggak.”

“Setuju.”

Pria itu berjalan ke arah mereka bertiga. Dengan refleks, ketiga wanita itu tersenyum centil kearahnya. Pria itu berjalan dengan tegap dan melewati mereka.

“Gayanya cool. Keren banget.”

“Bodynya itu menggoda iman bo.”

“Gila senyumnya buat gw melting.

Oke siapkan rencana ah buat tahu nomornya. Mereka bertiga langsung memikirkan hal itu. Pria itu berjalan ke meja Rudolf. Mereka bersalaman.

“Oh jadi dia temennya Rudolf,” gumam mereka bertiga pelan.

Setelah bersalaman, Rudolf dan pria itu…. cup. Mereka berciuman dari bibir ke bibir selama dua detik.

“YAELAAAH,” ketiga wanita itu bergumam.

Pesan moral : nobody’s perfect, just love someone imperfect perfectly.
*