
Yaelaaah (a short story)
Disebuah kafe di bilangan kemang
Rizka sedang duduk sambil melihat ke
sekeliling. Suasana malam minggu yang cukup ramai. Ia melongok ke
ponselnya, hanya untuk melihat empat digit angka yang menunjukkan waktu.
Mungkin kalau ponselnya bisa bicara, dia akan berkata stop clockwatching girl. Jus
jeruk yang ia pesan sudah habis setengahnya. Pengunjung kafe lain sudah
larut dalam pembicaraan yang asyik dengan teman atau pacar mereka
“Kemana sih, kok lama banget,” eluhnya dalam hati.
Pandangan Rizka tertuju kepada seorang pria yang baru saja datang ke dalam kafe.
“Gila…, ganteng banget.”
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa
melalui persetujuan otak besarnya. Pria muda yang sepertinya berusia 25
tahunan, seumuran dengannya. Rambutnya berdiri, kulitnya putih, dengan
badan yang atletis. Sebuah senyum meluncur dari pria itu kepada Rizka
ketika ia mendapati Rizka melihatnya tanpa kedip. Rizka langsung
tersenyum malu.
Mungkin Tuhan butuh waktu lama untuk
menciptakan setiap lekuk pria itu. Pria itu berjalan dengan tegap dan
gagah ke arah Rizka. Apakah dia tiba-tba datang untuk berkenalan
dengannya ? Rizka memang sudah dandan habis-habisan malam minggu ini dan
dia masih single. Pria mana yang tak tertarik dengan tubuh molek dan wajah canatiknya.
Rizka makin melebarkan
senyumnya dan berdiri, hendak menyapa pria itu. Ia yakin 100 persen pria
itu datang untuk menemuinya. Pria itu masih saja tersenyum kepada
Rizka. Rizka menjulurkan tangannya ketika pria itu sudah dekat sekali
dengan mejanya.
“Hai…,” sapa Rizka pelan.
Wuss. Pria itu melewati Rizka dan
duduk di meja yang berjarak dua meja darinya. Rizka langsung duduk dan
menutup wajahnya karena malu. Salah seorang pengunjung kafe yang duduk
di depan Rizka menutup mulutnya yang sedang menertawakan kejadian tadi.
“Aduh bego banget sih gw,” kata Rizka dalam hati.
Selama semenit ia tak berani melihat ke sekeliling.
“Hai Rizka, kenapa lo ?”
Dua orang wanita berdiri di depan mereka.
Akhirnya orang yang ia tunggu datang juga. Mereka adalah Sally dan
Dona, teman baik Rizka. Mereka memang berencana menghabiskan malam
minggu ini bersama di kafe ini. Banyak yang merekomendasikan kafe ini
karena live music-nya. Mungkin 10 jam lagi mulai.
“Nggak. Ayo duduk. Kok lama banget sih ?”
“Macet banget. Lo dah lama ?” Dona dan Sally duduk di depan Rizka.
“Yaelah. Nenek gondrong juga tahu kali Don kalau Jakarta pasti macet. Gw dah 20 menit nungguin kalian.”
“20 menit doang. Mas-mas minta menunya dong,” Dona berkata kepada pelayan yang baru saja lewat.
Pelayan itu datang sambil membawa dua buku besar yang berisi daftar menu.
“Lo belom pesen kan Riz ?”
“Belom. Yang enak disini apa ya mas ?” kata Rizka sambil membolak-balikkan menu.
“Menu spesial yang banyak dipesan
disini adalah surprised sirloin steak, bombastic fried rice, dan grilled
chiken with volcano sauce. Kalau minumnya yang spesial itu ada Jus
remang-remang, Ice gold capucino, dan cendol strawberry.”
Akhirnya mereka memesan tiga menu
yang judulnya aneh-aneh itu. Pelayan pergi dan mereka menunggu pesanan.
Penyanyi live music sudah naik ke panggung, sedang bersiap-siap untuk
tampil.
“Emang bener lo milih tempantnya Don, disini bagus banget,” kata Sally.
“Iya gw suka tempatnya. Dekorasinya
modern minimalis, membuat pengunjung nyaman. Walau pengunjung ramai tapi
tempatnya nggak berisik,” lanjut Rizka.
“Bukan itu maksud gw. Bagus dan indah tuh karena itu….” kata Sally sambil menunjuk ke sebuah arah dengan kepalanya.
Rizka dan Dona melirik ke arah tersebut.
Sally menunjuk ke pria yang tadi sempat membuat Rizka ke-GR-an. Dia
sedang duduk sendiri sambil mengamati penyanyi diatas panggung yang
sedang cek sound.
“Udah deh. Kok desperate banget sih jadi jomblowati. Lihat cowok bening dikit langsung jadi buas,” kata Rizka.
“Tumben lo Riz. Biasanya lo yang paling agresif diantara kita,” sahut Sally.
“Habis tadi….”
Rizka menceritakan insiden kecil yang dia alami.
“Hahaha. Lo sih GR banget. Tapi tuh cowok
emang ganteng banget. Semua gebetan kita lewat deh. Kira-kira dia lagi
nungguin siapa ya ?” kata Dona.
“Ceweknya ?”
“Kayaknya nggak deh. Harusnya kan cowoknya jemput ceweknya dan mereka sampai sini barengan.”
“Jadi…?” tanya Rizka.
“Dia sama kayak kita. Dateng ke kafe ini untuk menikmati makanan dan live music-nya,” kata Dona.
“Eh dia ngelihat ke arah kita.”
Dona, Rizka, dan Sally langsung sok jual
mahal ketika pria itu tersenyum ke arah mereka. Langsung beribu harapan
terpikirkan oleh mereka sebagai tanggapan atas senyum itu.
“Eh dia ngasih harapan tuh.”
“Apaan sih. GR banget deh.”
“Gimana kalau…., kita bertanding. Siapa yang berhasil tuker-tukeran nomor atau PIN, dia yang menang.”
“Hadiahnya ?”
“Ya tuh cowok.”
“DEAL,” kata mereka bersahutan. Refleks mereka langsung menutup mulut karena suara itu cukup menyita perhatian sekeliling.
Lagu pertama sudah berdendang. Sebuah lagu dari ten 2 five berjudul i will fly dimainkan dengan sangat apik oleh sang penyanyi.
“Siapa duluan ni ?”
“Gambreng aja.”
“Yuks ah.”
Oke giliran pertama Dona, Sally, lalu Rizka.
“Lo duluan gih Don.”
“Oke, lihat nih cara gw.”
Dona langsung mengeluarkan alat make
upnya. Dia memastikan kecantikannya berada di posisi tertinggi. Lipstik,
eyeliner, blush on, sudah oke. Dona berjalan ke arah pria itu yang
sedang serius mendengarkan live music. Dona melewati depan pria itu
dengan anggun.
“Mbak-mbak,” pria itu berdiri dan memanggil Dona.
“Yaa,” kata Dona sambil membalikkan
badannya dengan dramatisir. Dress yang ia kenakan sedikit tersibak oleh
gerakan tubuhnya. Ia menyibak poninya yang panjang sambil menatap pria
itu dengan halus.
“Dompetnya jatuh,” kata pria itu sambil menyodorkan sebuah dompet berwarna merah muda.
“Sepertinya itu bukan dompet saya.”
“Dan pasti ini juga bukan dompet saya. Tadi saya lihat dompetnya terjatuh dari tas Mbak.
Pria itu menyipitkan matanya.
“Apakah semua dompet merah muda punya saya ? Mungkin itu dompet pacarnya mas.”
“Saya belum punya cewek mbak. Mbak ini…,” pria itu membuka dompet itu dan melihat sebuah kartu.
“Mbak ini Dona Doradora kan ? Fotonya juga sama ?”
“Iya saya Dona, kamu ?” Dona langsung menyodorkan tangannya.
“Rudolf,” pria itu menjabat tangan Dona namun dengan wajah yang masih kebingungan.
“Kayaknya emang bener deh ini dompet
saya. Terima kasih ya Rudolf. Ini….” Dona mengeluarkan selembar lima
puluh ribu dan memberikannya kepada Rudolf.
“Oh nggak usah mbak. Saya Cuma kebetulan melihat dompet mbak jatuh. Sudah kewajiban saya untuk mengembalikannya.”
“Mbak ? Panggil aja Dona.”
“Iya Dona. Saya nggak bisa nerima. Lagipula saya nggak kekurangan uang kok.”
“Memangnya kamu setajir itu sampe nggak doyan 50.000.”
“Ya saya kan udah punya kerjaan yang bagus jadi nggak ada masalah keuangan.”
“Emang kamu kerja dimana ?”
“Saya kerja sebagai supervisor sebuah perusahaan minyak.”
Cring-cring-cring. Dona langsung membayangkan betapa sempurnanya pria ini; ganteng, tajir, baik pula.
“Oh yaudah.”
Dona memasukkan kembali uang 50.000 itu ke dompetnya. Dona melotot sambil melihat ke arah dompetnya. Ekspresi kaget.
“Hah ???”
Dona langsung pingsan atau tepatnya
pura-pura pingsan dan mendaratkan tubuhnya kearah Rudolf. Dengan
relfeks Rudolf menangkap tubuh Dona. Jreng, adegan Dona jatuh ke pelukan
Rudolf.
“Brengsek si Dona. Ngapain dia pura-pura pingsan segala,” komentar Sally dari mejanya.
“Dona, kamu kenapa ?” kata Rudolf sambil
menepuk pelan pipi Dona. Dona membuka matanya perlahan. Rudolf
mendudukan Dona di kursi.
“Kartu kreditku hilang. Gimana dong ?”
Dona langsung mengggenggam erat tangan Rudolf sambil memancarkan mata
yang berbinar-binar. Rudolf menarik tangannya dari genggaman Dona.
“Yang benar, coba saya lihat.”
Rudolf langsung mengambil dompet merah jambu itu dan mengeceknya.
“Ini ada…,” kata Rudolf sambil mengeluarkan sebuah kartu berwarna kuning.
“Ya ampun, ceroboh sekali aku sampai tak
melihatnya. Terimakasih ya Rudolf. Kamu baik sekali,” Dona langsung
memeluk Rudolf selama beberapa detik untuk menunjukkan rasa
terimakasihnya.
“Kamu baik rudolf. Kalau kamu nggak mau
terima uangku. Kamu harus terima ini,” Dona menyerahkan sebuah kartu.
Itu kartu nama. Rudolf mengambilnya.
“Kamu punya kartu nama ?”
“Nggak punya.”
“Tapi nomor punya kan ?” Dona langsung mengeluarkan ponselnya.
“Punya.”
“O8…., berapa ?” Dona menatap Rudolf dengan halus.
“Oh, 08….”
Tak lama kemudian Dona kembali ke mejanya.
“Gw berhasil.”
“Buaya lo Don. Sok-sok agresif gitu,” kata Sally.
“Bodo. Yang penting gw berhasil dapetin nomornya.”
“Gimana ? Dia kerja dimana ? Udah punya cewek ?” tanya Rizka.
“Cari tahu sendiri dong.”
“Oke giliran gw. Kalau misalnya kita bertiga dapetin nomor tuh cowok gimana ?”
“Ya persaingan berlanjut ke tahap pendekatan.”
“Fine. Siapa takut. Lihat nih cara gw. Cowok kayak gitu itu harus dimenangkan dengan cara romantis.”
“Banyak omong lo. We need evidence not your talk.”
Sally berdiri dan langsung menuju ke
panggung live music. Dia berbicara beberapa kalimat ke penyanyi yang
kebetulan tepat sekali sedang diantara jeda dua lagu. Tak lama kemudian
Sally sudah siap bernyanyi. Memang pengunjung diperbolehkan
menyumbangkan suaranya.
“Hedeh tuh anak. Tahu deh yang jago nyanyi,” komentar Rizka.
“Mau nyanyi apa tuh ?”
“Ya satu lagu dari Carly Rae Jepsen berjudul Call me maybe.”
“Hey i’ve just met you and this is crazy but here’s my number so call me maybe.” Sally sedikit menunjuk ke arah Rudolf ketika menyanyikan reffnya.
Satu lagu sudah dinyanyikan dengan sangat
apik oleh Sally. Semua terpukau olehnya, termasuk rudolf. Dia memang
berbakat dalam menyanyi. Sally mengucapkan terimakasih dan turun dari
panggung. Dia berjalan menuju meja Rudolf. Rudolf melemparkan senyum
kepadanya.
“Hei boleh minta tanda tangannya,” kata Sally menyodorkan secarik kertas dan bolpoin ke Rudolf.
“Hah ?” Rudolf menyipitkan matanya.
“Kamu ini penyanyi Petra Sihombing kan ?” kata Sally polos.
“Bukan….”
“Nggak usah bohong. Saya ini fans berat kamu,” Sally duduk di kursi sebelah Rudolf.
“Tapi saya bukan Petra. Memangnya mirip ya ?”
“Menurut aku mirip. Jadi kamu bukan Petra ?”
“Bukan.”
“Buktinya ?”
Rudolf mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan KTPnya. Dona langsung membaca dan menghafalkan semua data di KTP itu.
“Oh jadi kamu ini Rudolf ya. Maaf saya
pikir Petra. Saya nyanyi bagus-bagus biar kamu tertarik, siapa tahu lagi
butuh penyanyi duet.”
“Nggak apa-apa. Saya suka kok sama suara kamu. Bagus.”
“Makasih.Ini di KTPnya status belum kawin. Ini belom di update ya datanya.”
“Nggak. Emang begitu adanya.”
“Tapi paling sebentar lagi ganti kali ya.”
“Kayaknya masih lama mbak.”
“Mbak…? Kenalin, saya Sally. Usia saya 25 juga kok, sama kayak kamu.”
Mereka pun bersalaman. Lima detik, tujuh detik, sepuluh detik. Rudolf menarik tangannya dari Sally yang tak mau melepaskan.
“Oh jadi masih lama tuh status berubah. Eh ceweknya mana ? Kamu sendiri aja ?”
“Oh kalau cewek saya belum punya Mbak…, eh Sally maksud saya.”
“Emang zaman sekarang nyari perempuan
yang baik-baik itu susah ya. Jarang yang nyari bener-bener suka bukan
karena tampang dan harta,” kata Sally lembut.
“Ehm…,ya.”
“Eh ini KTPnya.” Sally menyerahkan KTP Rudolf.
“Pekerjaan karyawan swasta. Karyawan dimana ?”
“Oh salah satu perusahaan minyak asing.”
Wuih gaji gede nih kayaknya. Sally
langsung berpikir kalau pria ini begitu sempurna; ganteng, tajir, baik.
Sally melihat Rudolf tanpa kedip selama beberapa saat.
“Kenapa ?”
Sally langsung memasang wajah murung. Dia menunduk.
“Loh kenapa ?”
“Kamu mengingatkan saya dengan mantan saya. Muka kalian mirip.”
“Kenapa emang sama mantan kamu ?”
“Saya sangat mencintai dia. Kami sudah
jadian selama 4 tahun. Kami saling mencintai. Namun suatu malam…., dia
mengalami kecelakaan. Hiks-hiks.”
“Aduh jangan nangis dong,” Rudolf terlihat bingung harus bertindak bagaimana.
“Kalimat terakhir yang dia ucapkan kepada saya adalah…, dia sangat mencintai saya.”
Sally langsung memeluk tubuh Rudolf.
Rudolf terlihat kaget dengan perbuatan Sally. Pengunjung kafe yang lain
terlihat sama bingungnya dengan Rudolf.
“Selama ini aku selalu setia walaupun dia
sudah meninggal, tapi ketika melihat kamu…, sepertinya Tuhan
menghidupkannya lagi. Kalian begitu mirip.”
“Sally, mungkin kita berdua hanya mirip
namun kami berbeda,” Rudolf mengelus rambut Sally dan kemudian mencoba
melepaskan pelukan Sally. Dia mulai risih.
“Berjanjilah untuk menjadi…, paling tidak temanku. Bantu aku untuk lepas dari mantanku.”
“Baik-baik aku bantu kamu.”
“Terima kasih Rudolf. Boleh minta nomor kamu ?”
“Iya…, catet ya 08….”
Tak lama kemudian Sally kembali ke meja
dengan wajah senang. Dia mengangkat ponselnya dan menunjukkan secara
sekilas ke Dona dan Rizka.
“Gw berhasil. Dia mau jadi temen gw. Gila tuh cowok sempurna banget deh. Pokoknya gw yang bakal dapetin.”
Dona dan Sally melihat ke arah Rizka.
Rizka menarik nafas panjang. Sekarang giliran dia. Dia mengambil jeda
selama 10 menit. Sebuah strategi sudah terpikirkan olehnya.
”Oke giliran gw. Kalian boleh mencari mangsa lain karena dia akan menjadi milik gw. Lihat nih cara gw.”
Rizka berdiri dan menuju ke meja Rudolf.
“Hei.”
“Eee, hei,” Rudolf bingung mendapati wanita asing datang ke mejanya.
“Maaf ya.”
“Maaf atas apa ?”
“Maaf atas kelakuan dua sepupuku ya.”
“Oh jadi Sally dan Dona itu sepupu kamu.”
“Iya…,” kata Rizka sambil duduk di samping Rudolf.
“Agak aneh sih kelakuannya. Sebenarnya ada apa sih ?”
“Begini mas….”
“Rudolf.”
“Begini Rudolf, sebenarnya mereka itu lagi marahan sama suami-suami mereka.”
“Mereka sudah nikah ?”
“Sudah. Memangnya mereka tidak bilang begitu ?”
“Tidak. Mereka bertindak seakan mereka masih single.”
“Ya ampun…, sebegitunya mereka. Jadi
mereka lagi bertengkar sama suami mereka. Kalau di Dona karena suaminya
nggak bisa ngasih uang belanja buat dia. Dona sih mintanya 100 juta. Ya
hari gini duit segitu kan gede.”
“100 juta sebulan ? Buat apa ?”
“Ya buat belanja-belanjanya si Dona. Dia
memang gila belanja. Dia Cuma mau sama cowok yang tajir dan yang
kelihatannya tajir seperti mas.”
“Gila sih 100 juta sebulan.”
“Kalau si Sally lagi bertengkar sama suaminya karena dia mau dinas keluar kota selama 1 minggu dan dia nggak diajak.”
“Loh apa yang harus dibertengkarkan ?”
“Sally itu amat sangat posesif. Dia nggak
akan ngebiarin suaminya pergi kemanapun tanpa ada pengawasan, bahkan ke
kamar mandi. Dia itu agak…, psyco.” Rudolf langsung memasang tampang takut.
“Ya jadi mereka sekarang ini lagi cari yaah…, pelampiasan lah. Lebih baik kamu hati-hati ya Rudolf.”
“Oke-oke terima kasih Infonya….”
“Rizka, nama saya Rizka.”
“Jadi dompet jatuh dan mantan yang meninggal itu bohong ?”
“Emmm, ya pasti bohong.”
“Ya ampun….”
“Kenapa Rudolf ?”
“Saya ngasih nomor saya ke mereka lagi. Kalau mereka nelpon atau SMS gimana ?”
“Gini aja. Kita tuker-tukeran nomor.
Kalau misalnya mereka hubungin kamu, kamu hubungi saya biar saya kasih
tahu harus gimana biar terhindar dari mereka. Oke ?”
“Oke terima kasih.”
“Ngomong-ngomong ada apa itu di bibir kamu.”
“Apa ?” kata Rudolf sambil memegang bibirnya.
Rizka mengambil tisu dan mengusap bibir Rudolf. Dia melirik Dona dan Sally di meja seberang dengan tatapan menantang.
“Eh aku pegang-pegang gini nanti ada yang marah lagi.”
` “Semoga nggak.”
“Loh emang cewek kamu mana ? Lagi ke toilet ? Atau belum dateng ?”
“Saya belum punya cewek.”
Tak lama kemudian Rizka kembali ke meja.
Yang terpenting dia berhasil kenalan, mendapat nomor dan gerbang untuk
mengalahkan dua saingannya. Dia yakin kali ini dia yang akan menang.
“Wah ternyata kita bertiga berhasil. Berarti saingan tetap berlanjut ya,” kata Dona.
“Siapa takut,” kata Rizka dengan senyum licik.
Mereka kembali menikmati makanan dan musik yang merdu.
“Eh-eh lihat deh cowok yang baru dateng itu…,” Sally menunjuk ke pria muda yang baru memasuki kafe.
“Gw baru tahu kalau Christian Sugiyono,
Marcel Chandrawinata, dan Dude Harlino main satu sinetron, memperebutkan
seorang wanita, dan pada akhirnya si wanita melakukan poliandri dan
menghasilkan anak seganteng itu,” komentar Dona.
“Eh, eh cari tahu nomor teleponnya lagi yuk,” ujar Sally sambil memandangi pria itu tanpa kedip.
“Terus si Rudolf ?”
“Kunci sama ban aja ada serepnya, masa cowok nggak.”
“Setuju.”
Pria itu berjalan ke arah mereka bertiga.
Dengan refleks, ketiga wanita itu tersenyum centil kearahnya. Pria itu
berjalan dengan tegap dan melewati mereka.
“Gayanya cool. Keren banget.”
“Bodynya itu menggoda iman bo.”
“Gila senyumnya buat gw melting.
Oke siapkan rencana ah buat tahu
nomornya. Mereka bertiga langsung memikirkan hal itu. Pria itu berjalan
ke meja Rudolf. Mereka bersalaman.
“Oh jadi dia temennya Rudolf,” gumam mereka bertiga pelan.
Setelah bersalaman, Rudolf dan pria itu…. cup. Mereka berciuman dari bibir ke bibir selama dua detik.
“YAELAAAH,” ketiga wanita itu bergumam.
Pesan moral : nobody’s perfect, just love someone imperfect perfectly.
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar