Ge-er
Bus berwarna merah itu mulai datang dari
kejauhan. Bertuliskan transjakarta dengan lambang burung yang aku
sendiri tak pernah mencari tahu burung apa itu. Kali ini yang datang
adalah bus gandeng. Semua yang berdiri di barisan ini bersiap mengambil
ancang-ancang bagaikan pelari jarak dekat yang menunggu ledakan tanda
start dimulai. Antrian cukup panjang pagi ini.
Perlahan tapi pasti bus itu mulai
memasuki halte. Selain harus berjuang untuk mendapat PW, aku juga harus
memastikan make up, rambut, dan bajuku tidak kusut atau luntur.
Bagaimanapun aku harus selalu terlihat cantik walau sedang bunge
jumping. Ciiiit, bus berhenti dan pintu terbuka. Berhubung ini halte
kedua, maka tidak terlalu ramai. Ciaaaat, semua berbondong-bondong masuk
dalam sebuah barisan.
Dapat duduk tidak ya ???? Sayangnya hari
ini bukan hari keberuntunganku. Di spot khusus penumpang wanita sudah
penuh. Aku melihat ke deretan wanita yang sedang duduk. Semuanya angkuh,
sudah pasti tak ada yang mau mengalah untuk memberiku duduk. Siapa aku
juga, aku masih 26 tahun, belum nenek-nenek. Fisikku juga sempurna, bisa
berdiri tanpa cacat, sudah pasti kalau di spot khusus wanita pasti
bakal berdiri.
Bus mulai berjalan. Biasanya butuh waktu
45 menit agar aku sampai ke kantor dengan transit satu kali. Aku
menyelinap ke belakang, ke spot campuran pria dengan wanita. Nah kalau
disini masih ada kesempatan aku bisa duduk. Aku sudah ahli menggunakan
jurus berdiri kaki pegal karena mengenakan highheels. Pasti cowok-cowok
disitu iba dan memberiku duduk.
Aku berdiri dan berpegangan dengan
sedikit mengetuk-ngetuk kaki ke lantai. Tak lupa dengan tampang sedikit
melirik ke pria-pria yang sedang duduk itu. Tak butuh waktu lama
sampai….
“Mbak silakan duduk,” kata salah seorang pria yang mereleakan kursinya.
Berhasiil, berhasil, berhasil hore. Aku
langsung tersenyum dan berterimakasih kepada pria itu. Haaah leganya
duduk. Berbicara tentang busway, berbagai macam orang bisa berkumpul
disini. Yang paling banyak adalah pekerja kantoran tentunya. Selain itu
juga ada pelajar, Anak muda yang mau jalan-jalan, turis asing, dan masih
banyak lagi yang jelas dan nggak jelas.
Aku paling senang dengan pekerja kantoran
yang rapi dan wangi apalagi kalau cowok, ganteng dan masih muda.
Yaiyaalah, aku masih cewek normal, masih jomblo pula. Aduuh udah lampu
kuning ini untuk segera menikah. Ibu di kampung juga sudah mulai rewel.
Masalahnya aku belum nemu cowok ganteng, kaya, baik dan nggak homo yang
mau sama aku. Kalau udah nemu mah langsung deh hajar ke pelaminan.
Beruntungnya aku pagi ini adalah, yang
duduk disebelahku adalah cowok high quality idaman setiap wanita dari
luarnya. Keluarin ceklistnya. Centang Ganteng, Centang body oke, centang
rapi, centang wangi, centang berkharisma. Oke yang masih harus di cek
adalah masih single, ga homo, tajir, dan baik. Dia sedang memainkan
HPnya yang seharga 8 juta. Tajir nggak sih ? Mungkin. Jarang banget nemu
cowok yang bisa memenuhi semua kriteria di ceklistku ini.
Aku mengeluarkan kaca make upku, ituloh
yang ada bedaknya kalau dibuka. Oke, penampilanku oke banget kok. Kalau
dia nggak gay pasti tertarik. Pertanyaannya gimana ya cara biar aku sama
dia berinteraksi. Ciiiit. Bus tiba-tiba ngerem mendadak. Pria itu
sedikit tak seimbang dan menyenggolku. Kaca make up yang aku pegang
terjatuh. Bedaknya berhamburan dan kacanya retak.
“Aduuuh,” eluhku.
“Maaf-maaf mbak,” kata pria itu.
Yes, Apakah ini jawaban atas doa-doaku
kepadamu Tuhan ? Dengan mudahnya aku bisa berinteraksi dengan cowok ini.
Masa bodoh deh sama bedak dan kacanya, begituan mah di abang-abang juga
banyak.
“Lain kali hati-hati ya mas…. Haduh
gimana yaaa…” kataku dengan sedikit kesal. Aku harus bisa temukan
jawaban agar sepanjang perjalanan aku bisa berinteraksi dengan dia.
“Aku ganti deh mbak. Harganya berapa ?”
“Itu limited edition mas. Aku beli di Paris dua minggu lalu,” aku berbohong. Padahal itu beli pas obral kemarin di ITC.
“Yah mahal ya ?”
“Nggak apa-apa kok mas. Mas nggak perlu ganti.”
“Tapi kan itu mahal.”
“Nggak apa-apa. Aku bisa beli lagi minggu depan. Kebetulan aku mau ke Paris lagi minggu depan.”
“Ooh. Kalau begitu aku minta maaf ya,” kata pria itu. Ia lalu kembali mulai fokus ke ponselnya.
Tidak. Jangan sampai pembicaraan berhenti
sampai disini. Perasaanku mengatakan pria ini bukan sekedar pria yang
lewat dalam kehidupanku. #OverPD #OverGR.
“Jasnya bagus mas.”
“Terimakasih,” katanya sambil melihat ke jas cokelat muda yang ia kenakan.
“Kamu single ?”
“Ya.”
“Kamu homo ?”
“Nggak,” kata pria itu agak kaget
“Kerja dimana ?”
“XXX (ga mau sebut merek, pokoknya perusahaan bonafit)”
Waah rezeki nomplok ni. Tinggal apakah
dia baik plus tajir atau nggak maka semua yang ada di ceklist bisa
dicentang nih. Dari gelagatnya sih dia baik. KAlau dari tempat kerjanya
sih dia tajir. Haduh kayaknya jodoh ni.
“Namaku Bella,”
“Eee. Aku Arya. Kerja dimana ?”
“Di kantor XXX daerah XXX (nggak mau sebut merek).”
“Baru ya naik busway ? Aku nggak pernah lihat.”
“Iya. Ini pertama kali naik busway.”
“Biasanya naik apa ?”
“Naik mobil.”
“Loh mobilnya kemana ?”
“Yang satu lagi di bengkel yang satu lagi dipinjem sama adik.”
Tuh kan mobilnya aja ada dua pasti tajir.
Oke centang deh tajir. Terus dia rela minjemin mobilnya ke adiknya
terus dia naik busway. Kurang baik apa coba. Centang deh baiknya.
Tunggu, siapa tahu besok dia nggak akan naik busway lagi, berarti aku
harus dapet cara agar aku sama dia harus berinteraksi lagi. Paling nggak
aku dapat nomor teleponnya deh.
“Mbak, mbak ?” Arya melambaikan tangannya didepanku. Aku tak sadar dan melamun yang tidak-tidak.
“Mbak,” Arya menepuk pundakku.
“Eh nikah yuk,” kataku dengan relfeks.
“Hah ?”
“Emm maksudku. Turun yuk. Kamu turun di
halte ini kan buat transit ? Aku juga.” Aku tahu letak kantor perusahaan
bonafit itu dan aku tahu rutenya. Dia akan transit di halte yang sama
denganku namun akan naik bus dengan arah berbeda denganku.
“Oh ya.”
Aku dan pria itu berdiri. Wuah ternyata
ramai sekali busway. Saking fokusnya sama dia sampe nggak ngeh dengan
sekitar. KAmi menyelinap dan keluar busway. Kami berjalan di koridor
halte, menuju halte seberang untuk transit. Ah gimana ini cara dapetin
nomor teleponnya. Oh ya.
“Ini kartu nama aku. Boleh minta kartu namamu ?”
“Aduh maaf, aku lagi nggak bawa,” katanya sambil membaca identitas kartu namaku.
Aduh gimana nih ? Masa sih aku langsung nembak boleh minta nomor teleponnya.
“Mbak aku kesana dulu ya, mbak kesana kan ?”
“Oh ya.”
“Senang bertemu denganmu Bella.”
Aku melambaikan tanganku sambil senyum
kearahnya. Yaaah, Romeoku pergi. Masa sih aku ngaku kalau kantorku
tiba-tiba pindah. Perlahan tapi pasti dia menghilang dari jarak
pandangku. Ya TUhaaan, kalau misalnya aku berjodoh dengannya, tolong
pertemukan aku dengannya lagi. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh, seakan
mau menukar setengah nyawaku agar doa ini bisa terkabul.
Dengan murung aku berjalan kearah halte.
Sebentar…, kok HPku nggak ada ? Paniiik. HP satu-satunya dan cicilannya
belum lunas pula. Biasanya aku taro di kantong sebelah kanan. Yang tadi
duduk di sebelah kananku adalaaah Arya. Ah masa sih dia maling ?
Mungkin aja ini modus baru, memanfaatkan kegantengan untuk mengalihkan
perhatian cewek kayak aku dan dia diam-diam nyolong. Haduuh.
*
“Gw nyaris kecopetaaan,” suara itu
memecah keheningan pagi. Dia rekan kerjaku. Hey, lo Cuma nyaris gw udah
kecopetan pagi ini. Aku sudah menelpon ke nomoroku dan sudah tidak
aktif. Pasti SIM cardnya sudah dibuang deh.
“Gimana ceritanya lo bisa kecolongan ?”
“Yang mau nyopet cowok, muda, ganteng, gaya kantoran. Dia sok-sok ngajak kenalan padahal aslinya mau nyolong HP.”
“Terus gimana ceritanya dia bisa ketahuan ?”
“Gw nyadar HP gw hilang. Gw yakin banget
sebelum naik busway tuh HP ada di kantong. Yaudah gw tembak aja tuh
cowok. Gw teriak maling sambil nunjuk tuh cowok. Eh bener ternyata di
tasnya udah ada HP gw. Kayaknya ni modus baru deh. Huh tampang boleh aja
ganteng. Bilangnya juga dia kerja di perusahaan bonafit lah. Eh
tahu-tahunya maling.”
Tuh kan bener. Aku ketipu tampang ganteeeeng. Siaaal, HP Gw ilang.
*
Jam pulang kantor. Saatnya kembali
berkutat dengan ramainya busway. Ampun deh kalau jam pulang. Soalnya
udah lelah ditambah desek-desekan juga. Rasanya pingin deh ngedorong
semua orang ini biar aku punya ruang buat jogged leluasa di busway.
Untung masih bisa dapat tempat duduk dispot khusus wanita. Emang paling
aman di spot khusus cewek ini. Aku masih belum bisa mengikhlaskan kalau
HPKu ilang ditangan cowok yang luarnya sempurna itu.
Jreng-jreng-jreng. Itu…., Arya. Dia
terlihat di kejauhan sedang duduk di spot campuran pria dan wanita.
Terlihat dia sedang berbicara dengan seorang wanita. Pasti itu mangsa
barunya. Terimakasih Tuhan, engkau mempertemukanku dengan dia lagi…,
namun kali ini untuk menghajarnya. Aku berdiri dan menyelinap di
keramaian kearahnya. Sudah pasti, wajah tampan itu adalah Arya.
Aku melihat ponsel yang digenggam Arya.
Loh itukan ponselku. Jelas-jelas tadi pagi dia menggunakan ponsel lain
yang harganya 8 juta itu, well aku yakin ponsel 8 juta itu juga hasil
colongan. Aku langsung teriak sambil menunjuk Arya.
“Maliiing.”
Semua penumpang busway melihat ke Arah
Arya. Arya hanya diam seribu bahasa. Aku berjalan dan mengambil ponsel
yang dia pegang. Akhirnya ponsel ini kembali padaku.
“Dia maling. Ini HP saya. Mbak HP nya belum hilang kan ?”
Wanita muda yang duduk di samping Arya mengecek HPnya, masih ada di kantungnya.
“Itu HP saya,” kata Arya.
“HEH, jelas-jelas ini HP gw. Tadi pagi HP lo bukan ini. Dasar maling.”
Terlihat penumpang busway lain mulai
bereaksi. Mereka mulai melihat Arya dengan pandangan marah. Wah mau baku
hantam nih. Biar deh, biar dia kapok. Yak 1,2,3 bagbugbagbug. Dengan
wajah babak belur Arya dikeluarkan dari busway dihalte berikutnya.
Kasihan juga sih dan sayang banget kegantengannya jadi ternoda seperti
itu.
Aku melihat ke ponsel ini. Model dan
warnanya sama persis dengan punyaku. Gila, semuanya sudah diganti, mulai
dari nomor, theme, memory card, pokoknya semuanya deh. Ini HPku bukan
sih ? Kok aku jadi ragu sih. Lets say kalau dia itu maling handal yang
pintar menyembunyikan jejak. Yang penting HP-ku kembali.
Kos sweet kos. Aku langsung berbaring di
kasur kos yang empuk dengan pakaian lengkap. Aku melirik ke meja di
samping kasur. Loh ini HP-ku. Jadi…, bukan ilang toh tapi ketinggalan.
Ponselku dalam keadaan mati karena baterainya sudah habis. Ini kan
ponsel pasaran, ada ratusan orang yang punya ponsel model dan warna ini.
Haduuuh, aku sudah memfitnah seseorang nih jadinya. Haaah, begonian
aku. Aku menyalakan ponselku. Sepuluh SMS langsung masuk ke HP-ku. Semua
dari 1 nomor tak dikenal. Baru dikirim beberapa menit lalu.
“Heh cewek gila, seenaknya aja menuduh gw maling……”
Ini pasti Arya. Dia tahu nomorku dari
kartu nama yang aku berikan. Baru kali ini merasa nggak enak sama
seseorang sampe segede ini. Aku langsung menelpon balik ke nomor itu.
Lihat sisi positifnya, aku jadi punya alas an untuk bisa berinteraksi
dengannya. Kenapa Tuhan menskenariokan interaksiku dengannya dengan cara
seperti ini ya ? Pasti ada maksudnya.
Pesan moral : Sebelum menuduh,
menuntut atau meminta orang lain, cobalah lihat dirimu sendiri. Apakah
kamu sudah mampu untuk melaksanakan apa yang kamu tutut tersebut. The
answer lie within yourselves

Tidak ada komentar:
Posting Komentar